Senin, 25 November 2013


ANALISIS SENYAWA KOMPLEKS
Tugas 1
(Diajukan untuk memenuhi tugas kimia anorganik lanjutan)
Dosen  :
Drs.Mahmud,M.Sc

Di susun Oleh            :
Emmi juwita siregar
8126141004
PROGRAM PASCA SARJANA
PRODI PENDIDIKAN KIMIA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2013


SINTESIS SENYAWA KOMPLEKS
Cis-[Co(Bipi)2(CN)2] DAN UJI INTERAKSINYA DENGAN GAS NO2 MENGGUNAKAN METODA SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS DAN IR

 ABSTRAK
NOx (NO dan NO2) merupakan gas pencemar berbahaya yang berasal dari berbagai macam proses seperti sisa pembakaran kendaraan bermotor (transportasi), industri, proses biologi dan sebagainya yang akhir-akhir ini menjadi masalah yang serius dan memerlukan penanggulangan. Sementara itu dalam kimia koordinasi, NO atau NO2 dapat berperan sebagai ligan sehingga membentuk senyawa kompleks dengan beberapa logam transisi salah satunya melalui mekanisme reaksi substitusi ligan melibatkan efek trans. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa senyawa kompleks cis-[Co(fen)2(CN)2] membutuhkan waktu ± 5 jam untuk dapat berinteraksi dengan gas NO2. Dalam penelitian ini disintesis senyawa kompleks dengan ligan feroin bipiridin dan didapatkan senyawa cis-[Co(bipi)2(CN)2] sebagai hasil reaksi antara [Co(CN)2].6H2O dengan 2,2’-bipiridin dalam pelarut etanol 95 % dan diinteraksikan dengan gas NO2 yang dibuat dari campuran tembaga dengan asam nitrat pekat. Uji interaksi dilakukan menggunakan metoda Spektrofotometri UV-Vis dan IR. Kompleks cis-[Co(Bipi)2(CN)2 yang diperoleh berupa kristal berwarna coklat terang dengan rendemen sebesar 75,86%. Setelah senyawa kompleks diinteraksikan dengan gas NO2 selama ± 3 jam dan analisis secara spektrofotometri UV-Vis menunjukkan terjadinya pergeseran serapan ke arah panjang gelombang yang lebih panjang (batokromik) sebesar 208 nm dan spektrum infra merah menunjukkan ikatan yang kuat pada 1386,82 cm-1 untuk M-NO2. Masuknya ligan NO2 menyebabkan terjadinya pelemahan ikatan pada ligan bipiridin yang terkoordinasi.

BAB I
PENDAHULUAN

            Senyawa kompleks telah banyak dipelajari dan diteliti melalui suatu tahapan-tahapan reaksi (mekanisme reaksi) dengan menggunakan ion-ion logam serta ligan yang berbeda-beda. Ligan memiliki kemampuan sebagai donor pasangan elektron sehingga dapat dibedakan atas ligan monodentat, bidentat, tridentat dan polidentat.
Dalam kimia koordinasi, NO atau NO2 dapat berperan sebagai ligan sehingga membentuk senyawa kompleks dengan beberapa logam transisi (Rilyanti, M dan Sembiring, Z., 2005). Beberapa ligan dapat dideretkan dalam suatu deret spektrokimia berdasarkan kekuatan medannya, yang tersusun sebagai berikut : I- < Br- < S2- < SCN- < Cl- < NO3- < F- < OH- < Ox2- < H2O < NCS- < NH3 < en < bipi < fen < NO2- < CN- < CO, dengan Ox = oksalat, en = etilendiamin, bipi = 2,2’-bipiridin dan fen = fenantrolin ( Huhey, 1993). Ligan NO2 dalam deret spektrokimia lebih kuat dibandingkan ligan-ligan feroin (fenantrolin, bipiridin dan etilendiamin) dan lebih lemah dari ligan CN.
NOx merupakan kelompok gas yang terdapat di atmosfer, terdiri dari NO dan NO2, dimana gas NO tidak berwarna sedangkan gas NO2 berwarna coklat kemerah-merahan dan berbau tajam ( Sastrawijaya, 1991). NO atau NO2 adalah bahan pencemar yang berbahaya dan memerlukan penanggulangan. Sumber utama NOx selain dari aktivitas bakteri, aktivitas manusia juga merupakan konstribusi yang cukup besar (bplhd. jakarta.go.id/ info/ NKLD / 2001 /DOCS/ Buku-II/ docs/ 411.htm).
Salah satu keistimewaan dari reaksi kompleks adalah reaksi pergantian ligan melalui efek trans. Reaksi pergantian ligan ini terjadi dalam kompleks oktahedral dan segi empat. Ligan –ligan yang menyebabkan gugus yang letaknya trans terhadapnya bersifat labil, dikatakan mempunyai efek trans yang kuat.
Penelitian tentang sintesis senyawa kompleks menggunakan ligan fenantrolin dan sianida telah dilakukan oleh Rilyanti, dkk, 2008. Senyawa kompleks yang dihasilkan adalah cis-[Co(fen)2(CN)2] berupa padatan yang berwarna coklat kekuningan. Kompleks ini berinteraksi dengan gas NO2 ditandai dengan terjadinya perubahan warna dari coklat terang menjadi orange. Spektrum infra merah kompleks Cis-[Co(fen)2(CN)2] setelah berinteraksi dengan gas NO2 menunjukkan karakteristik ikatan M-NO2 pada 1382,96 cm-1 , ikatan ini menandakan bahwa logam Co terikat langsung pada gugus NO2. Dalam hal ini terjadi pergantian satu ligan fenantrolin dengan dua molekul NO2.
Ligan 1,10-fenantrolin termasuk ke dalam ligan-ligan feroin bersama-sama dengan 2,2’-bipiridin, etilendiamin dan 2,2’,2’’-terpiridin. Ligan-ligan ini dapat membentuk kompleks yang memiliki intensitas warna yang kuat, sehingga ligan-ligan ini dapat dipakai luas dalam reaksi-reaksi warna pada kompleks kelat yang sangat stabil (Simamora, 1997). Ligan bidentat secara termodinamika memiliki kestabilan pembentukan kompleks yang lebih besar dibandingkan ligan monodentat sehingga senyawa-senyawa kompleks yang terbentuk mempunyai serapan warna yang jelas.
Untuk mengetahui kemampuan senyawa kompleks dengan ligan-ligan feroin berinteraksi dengan gas NO2, maka perlu dilakukan penelitian meliputi sintesis dan karakterisasi senyawa kompleks Co(II) menggunakan ligan bipiridin dan sianida serta mempelajari interaksinya dengan gas NO2.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman reaksi subtitusi kompleks melalui efek trans dan hasilnya digunakan sebagai acuan dalam pemanfaatan senyawa kompleks sebagai absorben gas NOx, sehingga dapat mengurangi dampak negatif pencemaran lingkungan seperti polusi udara.
BAB II
PEMBAHASAN

1.1  Sintesis Kompleks cis-[Co(bipi)2(CN)2]
Senyawa kompleks cis-[Co(bipi)2(CN)2] disintesis melalui 2 tahap, pertama disintesis senyawa Co(CN)2 sebagai bahan dasar, kemudian direaksikan dengan ligan bipiridin .
Senyawa [Co(CN)2]. 3H2O disintesis dengan mencampurkan larutan yang mengandung 0,651 gram (0,01 mol) KCN dalam 2,0 ml aquabides (hangat) dengan larutan yang mengandung 1,189 gram (0,005 mol) CoCl2 . 6H2O dalam 3,0 ml aquabides (hangat). Campuran tersebut diaduk dan didinginkan hingga terbentuk padatan senyawa [Co(CN)2].3H2O, padatan tersebut dicuci dengan aquabides dan dikeringkan dalam desikator.
Padatan [Co(CN)2].3H2O sebanyak 0,642 gram (0,0027mol) ditambahkan secara bertahap ke dalam larutan yang mengandung 1,265 gram 2,2’-bipiridin (0,0081 mol) dalam 50 ml etanol 95%, kemudian di stirrer selama ±2 jam, larutan yang terbentuk disaring dan dicuci dengan etanol 95% setelah itu diuapkan dalam desikator selama beberapa hari untuk mendapatkan kristalnya (Jian et al. , 2004).
1.2 Karakterisasi Senyawa Kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2]
Penentuan spektrum serapan senyawa kompleks
Untuk mengetahui λ (panjang gelombang) senyawa kompleks, dibuat larutan
cis-[Co(bipi)2(CN)2] dalam larutan DMSO (dimetil sulfoksida) dengan konsentrasi 0,295 mM . Setelah itu larutan kompleks diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 250-600 nm.
Penentuan Gugus Fungsional dalam Senyawa Kompleks
Untuk mengetahui formula senyawa kompleks hasil sintesis, maka dilakukan karakterisasi dengan menggunakan spektrofotometer infra merah.
1.3 Interaksi Senyawa Kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2] dengan Gas NO2
Padatan senyawa kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2] hasil sintesis sebanyak 0,45 gram diinteraksikan dengan gas NO2 yang dihasilkan dari reaksi antara serbuk tembaga dengan HNO3 pekat setelah itu diamati perubahan yang terjadi. Kompleks hasil interaksi dengan gas NO2 dikarakterisasi dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis dan IR .
2.1 Sintesis kompleks cis-[Co(bipi)2(CN)2]
Sintesis senyawa kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2] dilakukan dengan memodifikasi metode penelitian yang telah dilakukan oleh Jian et al. (2004). Sintesis kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2] dilakukan melalui dua tahapan. Tahap pertama sintesis senyawa [Co(CN)2] melalui reaksi antara KCN dengan CoCl2.6H2O. Selanjutnya, tahap kedua sintesis cis- [Co(bipi)2(CN)2] dengan cara menambahkan padatan [Co(CN)2] secara bertahap ke dalam larutan 2,2’-bipiridin dalam 70 mL etanol 96%. Sintesis [Co(CN)2] dilakukan melalui perbandingan stoikiometri dengan cara mencampurkan larutan CoCl2.6H2O yang berwarna merah tua (1,1897 gram CoCl2.6H2O dalam 4 mL akuabides) dengan larutan KCN yang tidak berwarna (0,6512 gram KCN dalam 3 mL akuabides hangat).
Campuran larutan tersebut diaduk dengan menggunakan magnetic stirrer selama beberapa menit hingga larutan homogen, kemudian larutan disaring dan dicuci dengan akuabides. Setelah itu, endapan dikeringkan di dalam desikator vakum selama dua hari hingga diperoleh padatan [Co(CN)2] yang berwarna coklat-kehijauan sebanyak 0,7840 gram dengan rendemen sebesar 85,67%. Sintesis kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2] dilakukan dengan menambahkan secara bertahap padatan [Co(CN)2] yang berwarna coklat-kehijauan sebanyak 0,9151 gram (0,005 mol) ke dalam larutan tidak berwarna yang mengandung 1,8743 gram 2,2’-bipiridin (0,012 mol) dalam 70 mL etanol 96%.
Campuran larutan berwarna coklat-kehijauan yang terbentuk diaduk dengan magnetic stirrer selama ± 2 jam hingga homogen. Selanjutnya, larutan dievaporasi selama empat hari pada temperatur ruang hingga diperoleh endapan kemudian dicuci dengan etanol 50% dengan pengulangan 3 kali untuk mendapatkan kompleks yang murni. Setelah itu, endapan dikeringkan hingga beratnya konstan dan diperoleh kristal kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2] yang berwarna coklat terang sebanyak 1,8790 gram dengan rendemen sebesar 75,86%.
2.2 Karakterisasi Kompleks cis- [Co(Bipi)2(CN)2]
Penentuan Spektrum Serapan Senyawa Kompleks cis- [Co(Bipi)2(CN)2]
Padatan kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2] hasil sintesis sebanyak 0,0125 gram dilarutkan ke dalam 25 mL pelarut DMSO dengan menggunakan gelas piala 50 mL. Selanjutnya, larutan [Co(bipi)2(CN)2] dianalisis dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan diamati absorbansinya pada selusur panjang gelombang 400 – 700 nm. 
 Spektrum kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2] menunjukkan serapan maksimum pada panjang gelombang 484,5 nm dengan absorbansi 0,303. Serapan ini terjadi pada panjang gelombang yang lebih besar dikarenakan atom N dari gugus bipiridin yang berkoordinasi dengan atom pusat (ion Co2+) dan adanya elektron bebas dari atom N tersebut yang mengalami delokalisasi elektron dalam cincin benzena terpadu dari bipiridin.
Spektrum ini terjadi akibat adanya transisi d-d yang terjadi pada orbital d kompleks. Transisi d-d ini terjadi pada panjang gelombang 484,5 nm yang mengindikasikan bahwa senyawa kompleks telah berhasil disintesis. Boncarosky et al. (2006) melakukan analisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis terhadap kompleks cis-[Co(en)2(NO2)2]NO3. Kompleks tersebut memberikan serapan maksimum pada panjang gelombang 340 dan 470 nm. Boncarosky et al. (2006) juga melakukan hal yang sama untuk isomer trans-, yaitu terdapat serapan maksimum pada panjang gelombang 342 dan 434 nm. Perbedaan antara isomer cis- dan trans- dapat dilihat dari energi terendah dari transisi d-d, yaitu trans- pada λmaks 434 nm sedangkan cis- pada λmaks 470 nm.
Dengan adanya perbandingan panjang gelombang kompleks di atas, maka kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2] dapat diasumsikan memiliki isomer cis-, karena serapan untuk energi terendah dari transisi d-d dari kedua isomer kompleks [Co(en)2(NO2)2]NO3 tidak jauh berbeda.
Penentuan Gugus Fungsional dalam Senyawa Kompleks cis-[Co(Bipi)2(CN)2]
Spektrum infra merah kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2] menunjukkan karakteristik ikatan yang kuat pada daerah 1471,69 dan 1442,75 cm-1 untuk C=N, 1664,57 cm-1 untuk uluran C=C aromatik, 1600,9 cm-1 untuk uluran HC=CH aromatik, 653,87 cm-1 untuk cincin piridin pada ligan 2,2’-bipiridin, 3109,25 dan 3080, 32 cm-1 untuk C−H dari cincin aromatik. Spektrum infra merah untuk kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2] ditunjukkan pada Gambar 2.
Ikatan pada 2127,48 cm-1 menunjukkan karakteristik untuk uluran C≡N dan pada 3336,85 cm-1 menunjukkan O−H dari molekul air yang terhidrat serta pada 1639,49 cm-1 untuk O−H dari molekul air yang mengkristal.
Dengan adanya ikatan O−H dari molekul air yang terhidrat serta O−H dari molekul air yang mengkristal dapat diasumsikan bahwa senyawa kompleks hasil sintesis merupakan senyawa kompleks yang mengandung hidrat.
2.3 Interaksi Senyawa Kompleks Cis-[Co(fen)2(CN)2] dengan Gas NO2
Senyawa kompleks cis-[Co(Bipi)2(CN)2] sebanyak 0,45 gram diinteraksikan dengan gas NO2 yang diperoleh dari reaksi antara padatan Cu sebanyak 0,25 gram (0,00786) dengan HNO 3 sebanyak 2,5 ml (0,04 mol). Adapun reaksi yang terjadi sebagai berikut :
3Cu + 8HNO3 → 3Cu2+ + 6NO3- + 2NO + 4H2O
2NO + O2 → 2NO2 (Vogel, 1985).
Padatan kompleks yang semula berwarna coklat terang, setelah berinteraksi dengan gas NO2 selama ±3 jam berubah warna menjadi orange. Terjadinya reaksi antara kompleks cis-[Co(bipi)2(CN)2] dengan gas NO2 disebabkan karena gas NO2 dalam kimia koordinasi dapat berperan sebagai ligan dan memiliki satu pasang elektron bebas pada atom nitrogen. Pada reaksi pergantian ligan, ligan kuat dapat menggantikan ligan yang lebih lemah, tetapi ligan yang lebih lemah tidak dapat menggantikan ligan yang lebih kuat. Berdasarkan urutan kekuatan ligan pada deret spektrokimia, NO2 merupakan ligan yang lebih lemah daripada ligan CN-, tetapi merupakan ligan yang lebih kuat dari ligan 2,2’-bipiridin, oleh karena itu gas NO2 yang mula-mula terserap oleh kompleks cis-[Co(Bipi)2(CN)2] kemudian bereaksi menggantikan ligan 2,2’-bipiridin membentuk senyawa kompleks baru.
2.4 Karakterisasi Senyawa Hasil Interaksi
Penentuan Spektrum Serapan
Padatan kompleks hasil interaksi sebanyak 0,0125 gram dilarutkan ke dalam 25 mL pelarut DMSO dengan menggunakan gelas piala 50 mL. Selanjutnya, larutan cis-[Co(bipi)2(CN)2].4H2O dianalisis dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan diamati absorbansinya pada selusur panjang gelombang 400 – 700 nm. Hasil spektrum ditunjukkan pada Gambar 3.
Spektrum kompleks hasil interaksi menunjukkan serapan maksimum pada panjang gelombang 692,5 nm dengan absorbansi 0,337. Spektrum serapan senyawa kompleks sebelum dan sesudah interaksi menunjukkan terjadi pergeseran serapan maksimum ke panjang gelombang yang lebih panjang (batokromik) yaitu sebesar 208 nm.
Pergeseran serapan ini dapat terjadi dikarenakan adanya konjugasi pasangan elektron bebas pada

Gambar 3. Spektrum serapan senyawa kompleks cis-[Co(bipi)2(CN)2].4H2O setelah berinteraksi dengan gas NO2
Spektrum kompleks hasil interaksi menunjukkan serapan maksimum pada panjang gelombang 692,5 nm dengan absorbansi 0,337. Spektrum serapan senyawa kompleks sebelum dan sesudah interaksi menunjukkan terjadi pergeseran serapan maksimum ke panjang gelombang yang lebih panjang (batokromik) yaitu sebesar 208 nm. Pergeseran serapan ini dapat terjadi dikarenakan adanya konjugasi pasangan elektron bebas pada atom N dari gugus NO2 yang akan menggeser serapan ke panjang gelombang yang lebih panjang. Gugus NO2 termasuk salah satu auksokrom, yaitu substituen pada kromofor yang menyebabkan terjadinya pergeseran merah (batokromik). Auksokrom dapat mengintensifkan warna dari suatu senyawa kompleks sehingga dapat diamati secara visual perubahan warna yang terjadi pada kompleks sebelum dan setelah interaksi (Sudjadi, 1985). Padatan kompleks cis-[Co(bipi)2(CN)2].4H2O sebelum interaksi berwarna coklat terang dan setelah interaksi dengan gas NO2 berwarna coklat orange.
Spektrofotometri Infra Merah (IR)
Spektrum infra merah kompleks cis-[Co(bipi)2(CN)2] setelah berinteraksi dengan gas NO2 menunjukan karakteristik ikatan yang kuat pada 2181,49 cm-1 merupakan puncak serapan untuk ligan C≡N, 1496,76 cm-1 merupakan puncak serapan untuk C=C dari ligan bipiridin cincin aromatik, 1315,45 dan 1247,94 cm-1 puncak serapan untuk C=N dari ligan bipiridin. Pada 1386,82 cm-1 dan 1761,01cm-1 merupakan puncak serapan untuk NO2. Pada 3633,89 cm-1, 3311,78 cm-1 dan 1606,70 cm-1 merupakan puncak serapan untuk gugus O-H dari molekul air yang terhidrat, pita serapan yang melebar disebabkan adanya ikatan hidrogen. Spektrum infra merah kompleks cis-[Co(bipi)2(CN)2] setelah berinteraksi dengan gas NO2 dapat dilihat pada Gambar 4.
Analisis Interaksi Senyawa Kompleks Cis-[Co(Bipi)2(CN)2] dengan Gas NO2
Spektrum serapan senyawa kompleks sebelum dan sesudah interaksi menunjukkan terjadi pergeseran ke arah panjang gelombang yang lebih panjang (batokromik). Pergeseran tersebut juga disertai dengan hasil pengamatan secara visual terhadap warna senyawa kompleks Cis-[Co(bipi)2(CN)2] sebelum dan setelah berinteraksi dengan gas NO2 . Berdasarkan teori medan kristal, suatu reaksi pergantian ligan medan lemah dengan ligan medan kuat akan memberikan perubahan warna pada senyawa kompleks. Warna larutan senyawa kompleks Cis-[Co(fen)2(CN)2] sebelum berinteraksi dengan gas NO2berwarna kuning terang dan setelah berinteraksi berwarna orange.
Spektrum infra merah kompleks Cis-[Co(fen)2(CN)2] setelah berinteraksi dengan gas NO2 menunjukkan ikatan yang kuat pada 1382,96 cm-1, ini menunjukkan bahwa senyawa kompleks tersebut telah mengadsorpsi NO2. Analisis spektrum infra merah untuk NO2 didukung oleh Feltham (1989) yang menjelaskan bahwa ikatan yang terjadi antara logam dengan NO2 dimana N berperan sebagai donor pasangan elektron dalam bentuk geometri ligan M-NO2 akan memberikan serapan pada 1390 cm-1.

BAB III
KESIMPULAN

KESIMPULAN

Sintesis kompleks cis-[Co(bipi)2(CN)2] menghasilkan kristal berupa serbuk berwarna coklat terang dengan rendemen sebesar 75,86 %. Karakterisasi kompleks melalui analisis infra merah dan UV-Vis menunjukkan bahwa senyawa kompleks hasil sintesis memiliki formula cis-[Co(bipi)2(CN)2].4H2O.
Kompleks cis-[Co(bipi)2(CN)2].4H2O yang berinteraksi dengan gas NO2 mengalami perubahan warna padatan kompleks dari coklat terang (sebelum interaksi) menjadi coklat orange (setelah interaksi). Analisis reaksi kompleks cis-[Co(bipi)2(CN)2].4H2O dengan gas NO2 menggunakan spektrofotometer UV-Vis menunjukkan pergeseran panjang gelombang dari 484,5 nm ke 692,5 nm (batokromik) dan analisis infra merah menunjukkan karakteristik ikatan M-NO2 pada 1386,82 cm-1 dan 1761.01 cm-1, ikatan ini menandakan bahwa logam Co terikat langsung dengan ligan NO2.

UCAPAN TERIMA KASIH

50 50075010001250150017502000225025002750300032503500375040001/cm30354045
Penulis mengucapkan terima kasih kepada DIPA PNBP T.A. 2008 Universitas Lampung yang telah memberi dana untuk penelitian ini sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Boncarosky, D., R. Cortes, M. Hurwitz and A. Wassner. 2006. Synthesis and Analysis of Cobalt Complex Isomers. Journal of the PGSS. pp 1-16.
bplhd. jakarta.go.id/ info/ NKLD / 2001 /DOCS/ Buku-II/ docs/ 411.htm.
Diakses tanggal 13 Oktober 2006 Pukul 11.00 WIB www.google.com/polutan NO)
Jian, F., H. Xiao., L. Li and P. Sun. 2004. Synthesis, Crystal Structure and Thermal Stability of Bis(1,10-Phenanthroline) Cobalt(II) Cyanide Ethanol Solvate Dihydrate. J. Coor. Chem, Vol. 57, No. 13. pp 1131-1137.
Feltham, Robert. 1989. Transition Metal Complexes of NOx. Pure & Appl. Chem. Vol. 61, No. 5, pp. 943 – 946.
Huheey, J.E, E.A. Keiter dan L Richard. 1993. Inorganic Chemistry Principles of Structure and Reactivity. 4th edition. Harper Collins. New York.
405 p.
Rilyanti, M.dan Hadi, S. 2005, Sintesis,Karakterisasi Sifat Magnet dan Analisis Thermal Kompleks ML’L” (M= Co, L’ = fen dan L” = CN), Jurnal Ilmiah MIPA BKS – PTS Wilayah Indonesia Barat, Vol. VIII, No. 2, Oktober 2005
Rilyanti, M., dkk 2005. Sintesis dan Studi Mekanisme Reaksi Kompleks MLILII (M=Fe, LI=Fen, LII=CN) Dengan NOx Sebagai Polutan Melalui Efek Trans. Laporan Penelitian. Universitas Lampung. Bandar Lampung. 70 hlm.
Rilyanti, M., Supriyanto, R., 2008, Sintesis dan Studi Interaksi Senyawa Kompleks Cis-[Co(fen)2(CN)2] dengan gas NO2, Seminar dan Rapat Tahunan (semirata) BKS-PTN Wilayah Barat Indonesia, FMIPA Universitas Bengkulu13-14 Mei 2008.
Sastrawijaya, T. 1991. Pencamaran Lingkungan. Rineka Cipta. Jakarta. Hlm 165
201.
Simamora, A. 1997. Studi Pengompleksan Co(II) dan Mn(II) dengan ligan 1,10-Fenantolin, 4,7-dimetil fenantolin dan Sianida, Sintesis dan Karakterisasi. Karya Utama Magister Ilmu Kimia. Universitas Indonesia. Jakarta.
112 hlm.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar