ANALISIS SENYAWA KOMPLEKS
Tugas
1
(Diajukan
untuk memenuhi tugas kimia anorganik lanjutan)
Dosen :
Drs.Mahmud,M.Sc
Di susun Oleh :
Emmi
juwita siregar
8126141004
PROGRAM PASCA SARJANA
PRODI PENDIDIKAN KIMIA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2013
SINTESIS SENYAWA
KOMPLEKS
Cis-[Co(Bipi)2(CN)2] DAN
UJI INTERAKSINYA DENGAN GAS NO2 MENGGUNAKAN METODA SPEKTROFOTOMETRI
UV-VIS DAN IR
ABSTRAK
NOx (NO
dan NO2)
merupakan gas pencemar berbahaya yang berasal dari berbagai macam proses
seperti sisa pembakaran kendaraan bermotor (transportasi), industri, proses
biologi dan sebagainya yang akhir-akhir ini menjadi masalah yang serius dan
memerlukan penanggulangan. Sementara itu dalam kimia koordinasi, NO atau NO2 dapat
berperan sebagai ligan sehingga membentuk senyawa kompleks dengan beberapa
logam transisi salah satunya melalui mekanisme reaksi substitusi ligan
melibatkan efek trans. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa senyawa kompleks
cis-[Co(fen)2(CN)2] membutuhkan waktu ± 5 jam untuk dapat
berinteraksi dengan gas NO2. Dalam penelitian ini disintesis senyawa
kompleks dengan ligan feroin bipiridin dan didapatkan senyawa cis-[Co(bipi)2(CN)2]
sebagai hasil reaksi antara [Co(CN)2].6H2O dengan 2,2’-bipiridin
dalam pelarut etanol 95 % dan diinteraksikan dengan gas NO2 yang
dibuat dari campuran tembaga dengan asam nitrat pekat. Uji interaksi dilakukan
menggunakan metoda Spektrofotometri UV-Vis dan IR. Kompleks cis-[Co(Bipi)2(CN)2 yang
diperoleh berupa kristal berwarna coklat terang dengan rendemen sebesar 75,86%.
Setelah senyawa kompleks diinteraksikan dengan gas NO2 selama
± 3 jam dan analisis secara spektrofotometri UV-Vis menunjukkan terjadinya
pergeseran serapan ke arah panjang gelombang yang lebih panjang (batokromik)
sebesar 208 nm dan spektrum infra merah menunjukkan ikatan yang kuat pada
1386,82 cm-1
untuk M-NO2. Masuknya ligan NO2 menyebabkan
terjadinya pelemahan ikatan pada ligan bipiridin yang terkoordinasi.
BAB I
PENDAHULUAN
Senyawa
kompleks telah banyak dipelajari dan diteliti melalui suatu tahapan-tahapan
reaksi (mekanisme reaksi) dengan menggunakan ion-ion logam serta ligan yang
berbeda-beda. Ligan memiliki kemampuan sebagai donor pasangan elektron sehingga
dapat dibedakan atas ligan monodentat, bidentat, tridentat dan polidentat.
Dalam kimia koordinasi, NO atau NO2 dapat
berperan sebagai ligan sehingga membentuk senyawa kompleks dengan beberapa
logam transisi (Rilyanti, M dan Sembiring, Z., 2005). Beberapa ligan dapat
dideretkan dalam suatu deret spektrokimia berdasarkan kekuatan medannya, yang
tersusun sebagai berikut : I- < Br- < S2- <
SCN- <
Cl- <
NO3- < F- <
OH- <
Ox2- <
H2O
< NCS- <
NH3 <
en < bipi < fen < NO2- < CN- <
CO, dengan Ox = oksalat, en = etilendiamin, bipi = 2,2’-bipiridin dan fen =
fenantrolin ( Huhey, 1993). Ligan NO2 dalam deret spektrokimia lebih
kuat dibandingkan ligan-ligan feroin (fenantrolin, bipiridin dan etilendiamin)
dan lebih lemah dari ligan CN.
NOx
merupakan kelompok gas yang terdapat di atmosfer, terdiri dari NO dan NO2, dimana
gas NO tidak berwarna sedangkan gas NO2 berwarna coklat kemerah-merahan
dan berbau tajam ( Sastrawijaya, 1991). NO atau NO2 adalah bahan pencemar
yang berbahaya dan memerlukan penanggulangan. Sumber utama NOx selain
dari aktivitas bakteri, aktivitas manusia juga merupakan konstribusi yang cukup
besar (bplhd. jakarta.go.id/ info/ NKLD / 2001 /DOCS/ Buku-II/ docs/ 411.htm).
Salah
satu keistimewaan dari reaksi kompleks adalah reaksi pergantian ligan melalui
efek trans. Reaksi pergantian ligan ini terjadi dalam kompleks
oktahedral dan segi empat. Ligan –ligan yang menyebabkan gugus yang letaknya trans
terhadapnya bersifat labil, dikatakan mempunyai efek trans yang
kuat.
Penelitian tentang
sintesis senyawa kompleks menggunakan ligan fenantrolin dan sianida telah
dilakukan oleh Rilyanti, dkk, 2008. Senyawa kompleks yang dihasilkan adalah cis-[Co(fen)2(CN)2]
berupa padatan yang berwarna coklat kekuningan. Kompleks ini berinteraksi
dengan gas NO2
ditandai dengan terjadinya perubahan warna dari coklat terang
menjadi orange. Spektrum infra merah kompleks Cis-[Co(fen)2(CN)2]
setelah berinteraksi dengan gas NO2 menunjukkan karakteristik
ikatan M-NO2
pada 1382,96 cm-1 , ikatan ini menandakan bahwa logam Co
terikat langsung pada gugus NO2. Dalam hal ini terjadi pergantian satu
ligan fenantrolin dengan dua molekul NO2.
Ligan 1,10-fenantrolin termasuk ke dalam ligan-ligan
feroin bersama-sama dengan 2,2’-bipiridin, etilendiamin dan
2,2’,2’’-terpiridin. Ligan-ligan ini dapat membentuk kompleks yang memiliki
intensitas warna yang kuat, sehingga ligan-ligan ini dapat dipakai luas dalam
reaksi-reaksi warna pada kompleks kelat yang sangat stabil (Simamora, 1997).
Ligan bidentat secara termodinamika memiliki kestabilan pembentukan kompleks
yang lebih besar dibandingkan ligan monodentat sehingga senyawa-senyawa
kompleks yang terbentuk mempunyai serapan warna yang jelas.
Untuk mengetahui kemampuan senyawa kompleks dengan
ligan-ligan feroin berinteraksi dengan gas NO2, maka perlu dilakukan
penelitian meliputi sintesis dan karakterisasi senyawa kompleks Co(II) menggunakan
ligan bipiridin dan sianida serta mempelajari interaksinya dengan gas NO2.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan
pemahaman reaksi subtitusi kompleks melalui efek trans dan hasilnya digunakan
sebagai acuan dalam pemanfaatan senyawa kompleks sebagai absorben gas NOx,
sehingga dapat mengurangi dampak negatif pencemaran lingkungan seperti polusi
udara.
BAB
II
PEMBAHASAN
1.1 Sintesis
Kompleks cis-[Co(bipi)2(CN)2]
Senyawa
kompleks cis-[Co(bipi)2(CN)2] disintesis melalui 2 tahap, pertama
disintesis senyawa Co(CN)2 sebagai bahan dasar, kemudian direaksikan
dengan ligan bipiridin .
Senyawa [Co(CN)2]. 3H2O
disintesis dengan mencampurkan larutan yang mengandung 0,651 gram (0,01 mol)
KCN dalam 2,0 ml aquabides (hangat) dengan larutan yang mengandung 1,189 gram
(0,005 mol) CoCl2 . 6H2O dalam 3,0 ml aquabides
(hangat). Campuran tersebut diaduk dan didinginkan hingga terbentuk padatan
senyawa [Co(CN)2].3H2O, padatan tersebut dicuci dengan
aquabides dan dikeringkan dalam desikator.
Padatan [Co(CN)2].3H2O
sebanyak 0,642 gram (0,0027mol) ditambahkan secara bertahap ke dalam larutan
yang mengandung 1,265 gram 2,2’-bipiridin (0,0081 mol) dalam 50 ml etanol 95%,
kemudian di stirrer selama ±2 jam, larutan yang terbentuk disaring dan dicuci
dengan etanol 95% setelah itu diuapkan dalam desikator selama beberapa hari
untuk mendapatkan kristalnya (Jian et al. , 2004).
1.2 Karakterisasi Senyawa Kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2]
Penentuan
spektrum serapan senyawa kompleks
Untuk
mengetahui λ (panjang gelombang) senyawa kompleks, dibuat larutan
cis-[Co(bipi)2(CN)2] dalam
larutan DMSO (dimetil sulfoksida) dengan konsentrasi 0,295 mM . Setelah itu
larutan kompleks diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang
gelombang 250-600 nm.
Penentuan Gugus
Fungsional dalam Senyawa Kompleks
Untuk
mengetahui formula senyawa kompleks hasil sintesis, maka dilakukan
karakterisasi dengan menggunakan spektrofotometer infra merah.
1.3 Interaksi Senyawa Kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2]
dengan Gas NO2
Padatan
senyawa kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2] hasil sintesis
sebanyak 0,45 gram diinteraksikan dengan gas NO2 yang dihasilkan dari reaksi
antara serbuk tembaga dengan HNO3 pekat setelah itu diamati perubahan yang
terjadi. Kompleks hasil interaksi dengan gas NO2 dikarakterisasi dengan
menggunakan spektrofotometri UV-Vis dan IR .
2.1 Sintesis kompleks cis-[Co(bipi)2(CN)2]
Sintesis
senyawa kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2] dilakukan dengan
memodifikasi metode penelitian yang telah dilakukan oleh Jian et al.
(2004). Sintesis kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2] dilakukan melalui dua
tahapan. Tahap pertama sintesis senyawa [Co(CN)2] melalui reaksi antara KCN
dengan CoCl2.6H2O.
Selanjutnya, tahap kedua sintesis cis- [Co(bipi)2(CN)2]
dengan cara menambahkan padatan [Co(CN)2] secara bertahap ke dalam
larutan 2,2’-bipiridin dalam 70 mL etanol 96%. Sintesis [Co(CN)2]
dilakukan melalui perbandingan stoikiometri dengan cara mencampurkan larutan
CoCl2.6H2O yang
berwarna merah tua (1,1897 gram CoCl2.6H2O dalam 4 mL akuabides)
dengan larutan KCN yang tidak berwarna (0,6512 gram KCN dalam 3 mL akuabides
hangat).
Campuran
larutan tersebut diaduk dengan menggunakan magnetic stirrer selama
beberapa menit hingga larutan homogen, kemudian larutan disaring dan dicuci
dengan akuabides. Setelah itu, endapan dikeringkan di dalam desikator vakum
selama dua hari hingga diperoleh padatan [Co(CN)2] yang berwarna
coklat-kehijauan sebanyak 0,7840 gram dengan rendemen sebesar 85,67%. Sintesis
kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2] dilakukan dengan menambahkan
secara bertahap padatan [Co(CN)2] yang berwarna coklat-kehijauan sebanyak
0,9151 gram (0,005 mol) ke dalam larutan tidak berwarna yang mengandung 1,8743
gram 2,2’-bipiridin (0,012 mol) dalam 70 mL etanol 96%.
Campuran
larutan berwarna coklat-kehijauan yang terbentuk diaduk dengan magnetic
stirrer selama ± 2 jam hingga homogen. Selanjutnya, larutan dievaporasi
selama empat hari pada temperatur ruang hingga diperoleh endapan kemudian
dicuci dengan etanol 50% dengan pengulangan 3 kali untuk mendapatkan kompleks
yang murni. Setelah itu, endapan dikeringkan hingga beratnya konstan dan
diperoleh kristal kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2] yang
berwarna coklat terang sebanyak 1,8790 gram dengan rendemen sebesar 75,86%.
2.2
Karakterisasi Kompleks cis- [Co(Bipi)2(CN)2]
Penentuan
Spektrum Serapan Senyawa Kompleks cis- [Co(Bipi)2(CN)2]
Padatan
kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2] hasil sintesis sebanyak 0,0125
gram dilarutkan ke dalam 25 mL pelarut DMSO dengan menggunakan gelas piala 50
mL. Selanjutnya, larutan [Co(bipi)2(CN)2] dianalisis dengan
menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan diamati absorbansinya pada
selusur panjang gelombang 400 – 700 nm.
Spektrum
kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2] menunjukkan serapan maksimum
pada panjang gelombang 484,5 nm dengan absorbansi 0,303. Serapan ini terjadi
pada panjang gelombang yang lebih besar dikarenakan atom N dari gugus bipiridin
yang berkoordinasi dengan atom pusat (ion Co2+) dan adanya elektron bebas
dari atom N tersebut yang mengalami delokalisasi elektron dalam cincin benzena
terpadu dari bipiridin.
Spektrum
ini terjadi akibat adanya transisi d-d yang terjadi pada orbital d kompleks.
Transisi d-d ini terjadi pada panjang gelombang 484,5 nm yang mengindikasikan
bahwa senyawa kompleks telah berhasil disintesis. Boncarosky et al. (2006)
melakukan analisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis terhadap kompleks
cis-[Co(en)2(NO2)2]NO3. Kompleks tersebut
memberikan serapan maksimum pada panjang gelombang 340 dan 470 nm. Boncarosky et
al. (2006) juga melakukan hal yang sama untuk isomer trans-, yaitu
terdapat serapan maksimum pada panjang gelombang 342 dan 434 nm. Perbedaan
antara isomer cis- dan trans- dapat dilihat dari energi terendah
dari transisi d-d, yaitu trans- pada λmaks 434 nm sedangkan cis- pada
λmaks 470
nm.
Dengan
adanya perbandingan panjang gelombang kompleks di atas, maka kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2] dapat
diasumsikan memiliki isomer cis-, karena serapan untuk energi terendah
dari transisi d-d dari kedua isomer kompleks [Co(en)2(NO2)2]NO3 tidak
jauh berbeda.
Penentuan Gugus
Fungsional dalam Senyawa Kompleks cis-[Co(Bipi)2(CN)2]
Spektrum
infra merah kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2] menunjukkan
karakteristik ikatan yang kuat pada daerah 1471,69 dan 1442,75 cm-1 untuk
C=N, 1664,57 cm-1 untuk uluran C=C aromatik, 1600,9 cm-1 untuk
uluran HC=CH aromatik, 653,87 cm-1 untuk cincin piridin pada ligan
2,2’-bipiridin, 3109,25 dan 3080, 32 cm-1 untuk C−H dari cincin
aromatik. Spektrum infra merah untuk kompleks cis- [Co(bipi)2(CN)2]
ditunjukkan pada Gambar 2.
Ikatan pada
2127,48 cm-1
menunjukkan karakteristik untuk uluran C≡N dan pada 3336,85 cm-1 menunjukkan
O−H dari molekul air yang terhidrat serta pada 1639,49 cm-1 untuk
O−H dari molekul air yang mengkristal.
Dengan
adanya ikatan O−H dari molekul air yang terhidrat serta O−H dari molekul air
yang mengkristal dapat diasumsikan bahwa senyawa kompleks hasil sintesis
merupakan senyawa kompleks yang mengandung hidrat.
2.3 Interaksi
Senyawa Kompleks Cis-[Co(fen)2(CN)2] dengan Gas NO2
Senyawa kompleks cis-[Co(Bipi)2(CN)2]
sebanyak 0,45 gram diinteraksikan dengan gas NO2 yang diperoleh dari reaksi
antara padatan Cu sebanyak 0,25 gram (0,00786) dengan HNO 3 sebanyak
2,5 ml (0,04 mol). Adapun reaksi yang terjadi sebagai berikut :
3Cu + 8HNO3 → 3Cu2+ + 6NO3- + 2NO
+ 4H2O
2NO + O2 → 2NO2 (Vogel, 1985).
Padatan kompleks yang semula berwarna coklat terang,
setelah berinteraksi dengan gas NO2 selama ±3 jam berubah warna
menjadi orange. Terjadinya reaksi antara kompleks cis-[Co(bipi)2(CN)2]
dengan gas NO2
disebabkan karena gas NO2 dalam kimia koordinasi dapat
berperan sebagai ligan dan memiliki satu pasang elektron bebas pada atom
nitrogen. Pada reaksi pergantian ligan, ligan kuat dapat menggantikan ligan
yang lebih lemah, tetapi ligan yang lebih lemah tidak dapat menggantikan ligan
yang lebih kuat. Berdasarkan urutan kekuatan ligan pada deret spektrokimia, NO2 merupakan
ligan yang lebih lemah daripada ligan CN-, tetapi merupakan ligan yang
lebih kuat dari ligan 2,2’-bipiridin, oleh karena itu gas NO2 yang
mula-mula terserap oleh kompleks cis-[Co(Bipi)2(CN)2]
kemudian bereaksi menggantikan ligan 2,2’-bipiridin membentuk senyawa kompleks
baru.
2.4
Karakterisasi Senyawa Hasil Interaksi
Penentuan
Spektrum Serapan
Padatan
kompleks hasil interaksi sebanyak 0,0125 gram dilarutkan ke dalam 25 mL pelarut
DMSO dengan menggunakan gelas piala 50 mL. Selanjutnya, larutan cis-[Co(bipi)2(CN)2].4H2O
dianalisis dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan diamati
absorbansinya pada selusur panjang gelombang 400 – 700 nm. Hasil spektrum
ditunjukkan pada Gambar 3.
Spektrum
kompleks hasil interaksi menunjukkan serapan maksimum pada panjang gelombang
692,5 nm dengan absorbansi 0,337. Spektrum serapan senyawa kompleks sebelum dan
sesudah interaksi menunjukkan terjadi pergeseran serapan maksimum ke panjang
gelombang yang lebih panjang (batokromik) yaitu sebesar 208 nm.
Pergeseran serapan
ini dapat terjadi dikarenakan adanya konjugasi pasangan elektron bebas pada
Gambar 3. Spektrum serapan senyawa kompleks cis-[Co(bipi)2(CN)2].4H2O
setelah berinteraksi dengan gas NO2
Spektrum
kompleks hasil interaksi menunjukkan serapan maksimum pada panjang gelombang
692,5 nm dengan absorbansi 0,337. Spektrum serapan senyawa kompleks sebelum dan
sesudah interaksi menunjukkan terjadi pergeseran serapan maksimum ke panjang
gelombang yang lebih panjang (batokromik) yaitu sebesar 208 nm. Pergeseran
serapan ini dapat terjadi dikarenakan adanya konjugasi pasangan elektron bebas
pada atom N dari gugus NO2 yang akan menggeser serapan ke panjang
gelombang yang lebih panjang. Gugus NO2 termasuk salah satu auksokrom,
yaitu substituen pada kromofor yang menyebabkan terjadinya pergeseran merah
(batokromik). Auksokrom dapat mengintensifkan warna dari suatu senyawa kompleks
sehingga dapat diamati secara visual perubahan warna yang terjadi pada
kompleks sebelum dan setelah interaksi (Sudjadi, 1985). Padatan kompleks cis-[Co(bipi)2(CN)2].4H2O
sebelum interaksi berwarna coklat terang dan setelah interaksi dengan gas NO2 berwarna
coklat orange.
Spektrofotometri
Infra Merah (IR)
Spektrum
infra merah kompleks cis-[Co(bipi)2(CN)2] setelah berinteraksi
dengan gas NO2
menunjukan karakteristik ikatan yang kuat pada 2181,49 cm-1 merupakan
puncak serapan untuk ligan C≡N, 1496,76 cm-1 merupakan puncak serapan untuk
C=C dari ligan bipiridin cincin aromatik, 1315,45 dan 1247,94 cm-1 puncak
serapan untuk C=N dari ligan bipiridin. Pada 1386,82 cm-1 dan
1761,01cm-1
merupakan puncak serapan untuk NO2. Pada 3633,89 cm-1,
3311,78 cm-1
dan 1606,70 cm-1 merupakan puncak serapan untuk gugus O-H
dari molekul air yang terhidrat, pita serapan yang melebar disebabkan adanya
ikatan hidrogen. Spektrum infra merah kompleks cis-[Co(bipi)2(CN)2]
setelah berinteraksi dengan gas NO2 dapat dilihat pada Gambar 4.
Analisis
Interaksi Senyawa Kompleks Cis-[Co(Bipi)2(CN)2] dengan Gas NO2
Spektrum
serapan senyawa kompleks sebelum dan sesudah interaksi menunjukkan terjadi
pergeseran ke arah panjang gelombang yang lebih panjang (batokromik).
Pergeseran tersebut juga disertai dengan hasil pengamatan secara visual
terhadap warna senyawa kompleks Cis-[Co(bipi)2(CN)2]
sebelum dan setelah berinteraksi dengan gas NO2 . Berdasarkan teori medan
kristal, suatu reaksi pergantian ligan medan lemah dengan ligan medan kuat akan
memberikan perubahan warna pada senyawa kompleks. Warna larutan senyawa
kompleks Cis-[Co(fen)2(CN)2] sebelum berinteraksi dengan
gas NO2berwarna
kuning terang dan setelah berinteraksi berwarna orange.
Spektrum
infra merah kompleks Cis-[Co(fen)2(CN)2] setelah berinteraksi
dengan gas NO2
menunjukkan ikatan yang kuat pada 1382,96 cm-1, ini
menunjukkan bahwa senyawa kompleks tersebut telah mengadsorpsi NO2.
Analisis spektrum infra merah untuk NO2 didukung oleh Feltham (1989)
yang menjelaskan bahwa ikatan yang terjadi antara logam dengan NO2 dimana
N berperan sebagai donor pasangan elektron dalam bentuk geometri ligan M-NO2 akan
memberikan serapan pada 1390 cm-1.
BAB III
KESIMPULAN
KESIMPULAN
Sintesis
kompleks cis-[Co(bipi)2(CN)2] menghasilkan kristal berupa
serbuk berwarna coklat terang dengan rendemen sebesar 75,86 %. Karakterisasi
kompleks melalui analisis infra merah dan UV-Vis menunjukkan bahwa senyawa
kompleks hasil sintesis memiliki formula cis-[Co(bipi)2(CN)2].4H2O.
Kompleks cis-[Co(bipi)2(CN)2].4H2O yang
berinteraksi dengan gas NO2 mengalami perubahan warna padatan
kompleks dari coklat terang (sebelum interaksi) menjadi coklat orange (setelah
interaksi). Analisis reaksi kompleks cis-[Co(bipi)2(CN)2].4H2O dengan
gas NO2 menggunakan
spektrofotometer UV-Vis menunjukkan pergeseran panjang gelombang dari
484,5 nm ke 692,5 nm (batokromik) dan analisis infra merah menunjukkan
karakteristik ikatan M-NO2 pada 1386,82 cm-1 dan
1761.01 cm-1,
ikatan ini menandakan bahwa logam Co terikat langsung dengan ligan NO2.
UCAPAN
TERIMA KASIH
50
50075010001250150017502000225025002750300032503500375040001/cm30354045
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
DIPA PNBP T.A. 2008 Universitas Lampung yang telah memberi dana untuk penelitian
ini sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Boncarosky, D., R. Cortes, M. Hurwitz and A. Wassner. 2006. Synthesis
and Analysis of Cobalt Complex Isomers. Journal of the PGSS. pp 1-16.
bplhd.
jakarta.go.id/ info/ NKLD / 2001 /DOCS/ Buku-II/ docs/ 411.htm.
Diakses
tanggal 13 Oktober 2006 Pukul 11.00 WIB www.google.com/polutan NO)
Jian, F., H. Xiao., L. Li and P. Sun. 2004. Synthesis, Crystal
Structure and Thermal Stability of Bis(1,10-Phenanthroline) Cobalt(II) Cyanide
Ethanol Solvate Dihydrate. J. Coor. Chem, Vol. 57, No. 13. pp 1131-1137.
Feltham, Robert. 1989. Transition Metal Complexes of NOx.
Pure & Appl. Chem. Vol. 61, No. 5, pp. 943 – 946.
Huheey, J.E, E.A. Keiter dan L Richard. 1993. Inorganic
Chemistry Principles of Structure and Reactivity. 4th edition.
Harper Collins. New York.
405 p.
Rilyanti, M.dan Hadi, S. 2005, Sintesis,Karakterisasi Sifat Magnet dan
Analisis Thermal Kompleks ML’L” (M= Co, L’ = fen dan L” = CN), Jurnal Ilmiah
MIPA BKS – PTS Wilayah Indonesia Barat, Vol. VIII, No. 2, Oktober 2005
Rilyanti, M., dkk 2005. Sintesis dan Studi Mekanisme
Reaksi Kompleks MLILII (M=Fe, LI=Fen, LII=CN)
Dengan NOx
Sebagai Polutan Melalui Efek Trans. Laporan Penelitian.
Universitas Lampung. Bandar Lampung. 70 hlm.
Rilyanti, M., Supriyanto, R., 2008, Sintesis dan Studi
Interaksi Senyawa Kompleks Cis-[Co(fen)2(CN)2] dengan gas NO2,
Seminar dan Rapat Tahunan (semirata) BKS-PTN Wilayah Barat Indonesia, FMIPA
Universitas Bengkulu13-14 Mei 2008.
Sastrawijaya, T.
1991. Pencamaran Lingkungan. Rineka Cipta. Jakarta. Hlm 165
201.
Simamora, A. 1997. Studi Pengompleksan Co(II) dan Mn(II)
dengan ligan 1,10-Fenantolin, 4,7-dimetil fenantolin dan Sianida, Sintesis dan
Karakterisasi. Karya Utama Magister Ilmu Kimia. Universitas Indonesia.
Jakarta.
112
hlm.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar