STRATEGI PENYIMPANAN ZAT DAN BAHAN KIMIA YANG STANDAR
DI LABORATORIUM
DOSEN PENGAMPU :
Prof. Drs. Manihar Situmorang, M.Sc, Ph.D
O
L
E
H
Emmi Juwita Siregaar
8126141004
Kelas ( A )
PROGRAM
STUDI MAGISTER PENDIDIKAN KIMIA
PROGRAM
PASCASARJANA
UNIVERSITAS
NEGERI MEDAN
2013
BAB
I
PENDAHULUAN
Laboratorium
adalah suatu tempat dimana siswa, mahasiswa, dosen, maupun peneliti melakukan percobaan.
Percobaan yang dilakukan menggunakan berbagai bahan kimia, peralatan gelas dan instrumentasi
khusus yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan bila dilakukan dengan cara
yang tidak tepat. Kecelakaan itu dapat juga terjadi karena kelalaian atau
kecerobohan kerja, ini dapat membuat orang tersebut cedera dan bahkan bagi
orang disekitarnya. Keselamatan kerja di laboratorium merupakan dambaan bagi setiap
individu yang sadar akan kepentingan kesehatan, keamanan dan kenyamanan kerja. Bekerja
dengan selamat dan aman berarti menurunkan resiko kecelakaan. Walaupun petunjuk
keselamatan kerja sudah tertulis dalam setiap penuntun praktikum, namun hal ini
perlu dijelaskan berulang-ulang agar setiap individu lebih meningkatkan
kewaspadaan ketika bekerja di laboratorium.
Setiap bahan kimia itu
berbahaya, namun tidak perlu merasa takut bekerja dengan bahan kimia bila tahu
cara yang tepat untuk menanggulanginya. Yang dimaksud berbahaya ialah dapat
menyebabkan terjadinya kebakaran, mengganggu kesehatan, menyebabkan sakit atau
luka, merusak, menyebabkan korosi dan aebagainya. Jenis bahan kimia berbahaya
dapat diketahui dari label yang tertera pada kemasannya.
Penyimpanan bahan / zat kimia di laboratorium
merupakan salah satu aspek penting dalam pengelolaan suatu laboratorium.
Kesalahan dan keteledoran dalam menyimpan dan pengatur letak bahan / zat
kimia akan dapat mengakibatkan kecelakaan berupa keracunan, kebakaran, maupun
ledakan, yang membahayakan serta dapat merenggut nyawa. Oleh
sebab itu diperlukan pemahaman mengenai jenis bahan kimia agar yang bekerja
dengan bahan-bahan tersebut dapat lebih berhati-hati dan yang lebih penting
lagi tahu cara menanggulanginya.
BAB
II
ISI
2.1. Bahan Kimia
Setiap bahan kimia itu
berbahaya, namun tidak perlu merasa takut bekerja dengan bahan kimia bila tahu
cara yang tepat untuk menanggulanginya. Yang dimaksud berbahaya ialah dapat
menyebabkan terjadinya kebakaran, mengganggu kesehatan, menyebabkan sakit atau
luka, merusak, menyebabkan korosi dan sebagainya. Jenis bahan kimia berbahaya
dapat diketahui dari label yang tertera pada kemasannya.
Dari data tersebut, tingkat
bahaya bahan kimia dapat diketahui dan upaya penanggulangannya harus dilakukan
bagi mereka yang menggunakan bahan-bahan tersebut. Kadang-kadang terdapat dua
atau tiga tanda bahaya pada satu jenis bahan kimia, itu berarti kewaspadaan
orang yang bekerja dengan bahan tersebut harus lebih ditingkatkan. Contoh bahan
kimia yang mudah meledak adalah kelompok bahan oksidator seperti perklorat,
permanganat, nitrat dsb. Bahan-bahan ini bila bereaksi dengan bahan organik
dapat menghasilkan ledakan. Logam alkali seperti natrium, mudah bereaksi dengan
air menghasilkan reaksi yang disertai dengan api dan ledakan. Gas metana,
pelarut organik seperti eter, dan padatan anorganik seperti belerang dan fosfor
mudah terbakar, maka ketika menggunakan bahan-bahan tersebut, hendaknya
dijauhkan dari api. Bahan kimia seperti senyawa sianida, mercuri dan arsen
merupakan racun kuat, harap bahan-bahan tersebut tidak terisap atau tertelan ke
dalam tubuh. Asam-asam anorganik bersifat oksidator dan menyebabkan peristiwa
korosi, maka hindarilah jangan sampai asam tersebut tumpah ke permukaan dari
besi atau kayu. Memang penggunaan bahan-bahan tersebut di laboratorium
pendidikan kimia tidak berjumlah banyak, namun kewaspadaan menggunakan bahan
tersebut perlu tetap dijaga.
2.2. Penyimpanan Zat dan Bahan
Kimia
Penyimpanan bahan kimia
sangat perlu untuk mengurangi segala resiko yang timbul; mencegah mengatasi
kehilangan, pencurian , kebakaran, kerusakan dan penyalahgunaan; menekan biaya
operasional laboratorium sekecil mungkin; peningkatan kwalitas kerja/SDM untuk
mengelola laboratorium secara optimal; memudahkan rencana penambahan bahan yang
baru; merencanakan perbaikan atau servis; serta informasi peralatan bagi
user/pemakainya. Setiap bahan kimia memiliki sifat fisik dan
kimia yang berbeda-beda. Maka, hal-hal yang harus menjadi diperhatian dalam
penyimpanan dan penataan bahan kimia meliputi aspek pemisahan (segregation),
tingkat resiko bahaya (multiple hazards), pelabelan (labeling),
fasilitas penyimpanan (storage facilities), wadah sekunder (secondary
containment), bahan kadaluarsa (outdate chemicals), inventarisasi (inventory),
dan informasi resiko bahaya (hazard information).
1. Aman : Bahan disimpan supaya
aman dari pencuri.
2. Mudah
dicari : Untuk memudahkan mencari
letak bahan, perlu diberi tanda
yaitu dengan
menggunakan label pada setiap tempat
penyimpanan
bahan (lemari, rak atau laci).
3. Mudah
diambil : Penyimpanan bahan
diperlukan ruang penyimpanan dan
perlengkapan
1.
Wujud Bahan (Padat
dan Cair)
2.
Sifat Bahan (Asam dan Basa)
3.
Sifat Bahaya (Korosif; Racun; Mudah Terbakar)
4.
Seberapa sering
digunakan
Langkah –
Langkah Penyimpanan, yaitu:
1.
Bersihkan ruang dan
penyimpanan bahan
2.
Periksa data ulang
alat yang ada
3.
Kelompokkan bahan
yang ada berdasarkan pada keadaan bahan
4.
Penyimpanan dan
penataan bahan disesuaikan dengan fasilitas laboratorium dan keadaan bahan
Pedoman Umum Penyimpanan Bahan, yaitu:
1.
Setelah digunakan
dikembalikan di tempat semula
2.
Dikontrol periodik
3.
Pertimbangan
menyimpan berdasarkan jangkauan untuk menghindari kecelakaan
4.
Botol besar disebelah
bawah, kecil di atas
5.
Lemari ditempat
khusus
6.
Disimpan pada tempat
yang sesuai dan terpisah (padat, cair, gas, mudah terbakar, higroskopis, mudah
menguap)
Cara menyimpan bahan
laboratorium bahan, yaitu:
Cara menyimpan bahan
dengan memperhatikan kaidah penyimpanan, seperti halnya pada penyimpanan alat
laboratorium. Sifat masing-masing bahan harus diketahui sebelum melakukan
penyimpanan, seperti :
- Bahan yang dapat bereaksi
dengan kaca sebaiknya disimpan dalam botol plastik.
- Bahan yang dapat bereaksi
dengan plastik sebaiknya disimpan dalam botol kaca.
- Bahan yang dapat berubah
ketika terkenan matahari langsung, sebaiknya disimpan dalam botol gelap
dan diletakkan dalam lemari tertutup. Sedangkan bahan yang tidak mudah
rusak oleh cahaya matahari secara langsung dalam disimpan dalam botol
berwarna bening.
- Bahan berbahaya dan bahan
korosif sebaiknya disimpan terpisah dari bahan lainnya.
- Penyimpanan bahan sebaiknya
dalam botol induk yang berukuran besar dan dapat pula menggunakan botol
berkran. Pengambilan bahan kimia dari botol sebaiknya secukupnya saja
sesuai kebutuhan praktikum pada saat itu. Sisa bahan praktikum disimpam
dalam botol kecil, jangan dikembalikan pada botol induk. Hal ini untuk
menghindari rusaknya bahan dalam botol induk karena bahan sisa praktikum
mungkin sudah rusak atau tidak murni lagi.
- Bahan disimpan dalam botol
yang diberi simbol karakteristik masing-masing bahan.
Berikut ini dijelaskan simbol-simbol bahaya pada
bahan kimia termasuk notasi bahaya dan huruf kode (catatan:huruf kode bukan
bagian dari simbol bahaya)
1.
Bahan Mudah Terbakar (Inflammable substance )
Bahan
mudah terbakar terdiri dari sub-kelompok bahan peledak, bahan pengoksidasi,
bahan amat sangat mudah terbakar (extremely flammable substances), dan
bahan sangat mudah terbakar (highly flammable substances). Bahan dapat
terbakar (flammable substances) juga termasuk kategori bahan mudah
terbakar (inflammable substances).
Explosive
(bersifat mudah meledak)
Huruf kode: E
Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya
“explosive” dapat meledak dengan pukulan/benturan, gesekan, pemanasan, api dan
sumber nyala lain bahkan tanpa oksigen atmosferik. Ledakan akan dipicu oleh
suatu reaksi keras dari bahan. Di laboratorium, campuran senyawa pengoksidasi
kuat dengan bahan mudah terbakar atau bahan pereduksi dapat meledak . Sebagai
contoh, asam nitrat dapat menimbulkan ledakan jika bereaksi dengan beberapa
solven seperti aseton, dietil eter, etanol, dan lain sebagainya.
Hal-hal yang dapat menyebabkan ledakan
adalah:
a.
Karena
adanya pelarut mudah terbakar.
b.
Karena
ada udara cair.
Udara dapat
meledak jika dicampur dengan unsur-unsur pereduksi dan hidrokarbon
c.
Karena
ada debu.
Debu padat dari
bahan mudah terbakar bercampur dengan udara dapat menimbulkan ledakan dahsyat
d.
Karena
pencampuran gas
e.
Karena
ada peroksida.
Ledakan yang mungkin
ditimbulkan oleh bahan-bahan mudah meledak ini dapat dicegah dengan cara:
a.
Biasakan
melakukan eksperimen di tempat terbuka atau di dalam lemari uap
b.
Jika
ragu tentang sifat kimia bahan, gunakanlah dalam jumlah yang sedikit dan
lakukan percobaan di atas penangas air
c.
Gunakan
alat-alat yang layak (sesuai) seperti gelas tebal yang stabil oleh tekanan
d.
Selain
hal di atas untuk keamanan maka lakukan pengamatan dari belakang layar pengaman
atau gunakan pelindung seperti masker.
Bahan-bahan
dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya “oxidizing” biasanya
tidakmudah terbakar. Tetapi bila kontak dengan bahan mudah terbakar atau bahan
sangat mudah terbakar. Bahan organik penoksidasi sering menimbulkan ledakan
dahsyat, terutama peroksida. Untuk laboratorium sekolah sebaiknya tidak usah
menyediakan bahan ini seperti misalnya: Chlorat, Perklorat, Bromat, Peroksida,
Asam Nitrat, Kalium Nitrat, Kalium Permanganat, Bromin, Klorin, Fluorin, dan
Iodin yang mudah bereaksi dengan Oksigen (dalam kondisi tertentu) sehingga
dikelompokkan menjadi bahan pengoksidasi.
Bahan-bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi
bahaya “extremely flammable” merupakan bahan yang sangat mudah terbakar. Contoh
bahan dengan sifat tersebut adalah dietil eter (cairan) dan propane (gas).
Kebakaran
dapat terjadi karena berbagai hal. Sumber-sumber yang dapat menyebabkan
timbulnya perapian/kebakaran diantaranya: nyala api, permukaan panas, hubungan
pendek (korsluiting) listrik, muatan listrik statis, puntung rokok menyala,
korek api dan sumber lainnya.
Ada beberapa hal yang
harus diperhatikan dalam menangani bahan-bahan kimia yang mudah terbakar, agar
keselamatan dan keamanan tetap terjaga, yaitu:
- Bahan tidak boleh dipanaskan
secara langsung atau disimpan pada permukaan panas.
- Simpan bahan di tempat yang
ventilasinya baik
- Di laboratorium, sediakan
dalam jumlah yang minimum
- Sediakan alat pemadam
kebakaran. Bila terjadi kebakaran dengan api kecil gunakan kain basah atau
pasir, tapi bila api besar gunakan alat pemadam
- Pada saat memanaskan jangan
mengisi gelas kimia dengan cairan mudah terbakar melebihi ½ kapasitasnya.
Gunakan batu ddih guna menghindarkan ledakan/letupan
- Jangan membuang cairan yang
mudah terbakar ke dalam bak cuci
- Jangan menyimpan cairan mudah
terbakar dekat dengan bahan pengoksidasi atau bahan korosif
- Botoil penyimpanan bahan mudah
terbakar jangan diisi sampai penuh, sediakan 1/8 isinya untuk udara.
Gunakan botol yang tidak mudah terbakar dan jauhkan dari sumber perapian
- Bahan padat mudah terbakar
simpan di tempat sejuk, jauhkan dari sumber panas, bahan lembab dan air,
bahan pengoksidasi atau asam
- Kontrol semua bahan secara periodik
2. Bahan
– bahan berbahaya bagi kesehatan
Istilah bahan berbahaya untuk
kesehatan termasuk sub-grup bahan bersifat sangat beracun(very toxic
substances), bahan beracun (toxic substances) dan bahan berbahaya (harmful
substances).

Bahan dan formulasi yang
ditandai dengan notasi bahaya ‘very toxic’ dapat menyebabkan kerusakan
kesehatan akut atau kronis dan bahkan kematian pada konsentrasi sangat rendah
jika masuk ke tubuh melalui inhalasi, melalui mulut (ingestion), atau
kontak dengan kulit. Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya kalium
sianida, hydrogen sulfida, nitrobenzene dan atripin.
Bahan dan formulasi yang
ditandai dengan notasi bahaya ‘toxic’ dapat menyebabkan kerusakan kesehatan
akut atau kronis dan bahkan kematian pada konsentrasi sangat rendah jika masuk
ke tubuh melalui inhalasi, melalui mulut (ingestion), atau kontak
dengan kulit.Demi keamanan sebaiknya kita menganggap semua bahan kimia itu
beracun. Berdasarkan tempat masuknya melalui tubuh kita, bahan-bahan beracun
dikelompokkan menjai tiga kelompok besar yaitu bahan beracun yang masuk melalui
pencernaan (mulut), absorbsi kulit, dan pernapasan. Hal-hal yang dapat
dilakukan untuk menghindari masukknya bahan-bahan tersebut ke dalam tubuh adalah:
a. Untuk
menghindari racun melalui mulut:
·
Hindarkan makan, minum
atau merokok saat bekerja
·
Cuci tangan dan
keringkan sebelum meninggalkan laboratorium
·
Hati-hati jangan
menggunakan pipet isap.
b. Untuk
menghindari racun melalui kulit:
·
Cegah kontak dengan
kulit
·
Gunakan sarung tangan
·
Cuci tangan dengan
sabun dan air dengan segera
Untuk
pengamatan saat bekerja dengan bahan-bahan beracun, maka sebaiknya:
a. Gunakan
bahan sidung di tutup atau di tempat yang berventilasi baik. Jika tidak
digunakan, botol harus tetap di tutup
b. Gunakan
pelindung seperti sarung tangan dan jas lab.
c. Botol
harus selalu memiliki label dan disimpan di dalam lemari terkunci
d. Cuci
tangan sampai bersih sebelum meninggalkan laboratorium, tidak boleh membaui
senyawa kimia secara langsung dan tidak boleh makan di laboratorium
e. Taburkan
pasir atau tanah jika bahan tumpah ke lantai asmpai terserap kemudian uapkan
tanah/pasir tersebut di dalam oven.
Bahan dan formulasi yang
ditandai dengan notasi bahaya “harmful” memiliki resiko merusak kesehatan
sedang jika masuk ke tubuh melalui inhalasi, melalui mulut (ingestion),
atau kontak dengan kulit. Yang tidak diberi
notasi toxic, akan ditandai dengan simbol bahaya ‘harmful substances’ dan kode
huruf Xn. Contoh bahan yang memiliki sifat tersebut misalnya solven
1,2-etane-1,2-diol atau etilen glikol (berbahaya) dan diklorometan (berbahaya,
dicurigai karsinogenik).
3. Bahan-bahan yang merusak jaringan (tissue destroying
substances)
Bahan dan formulasi dengan
notasi “corrosive” adalah merusak jaringan hidup. Jika suatu bahan merusak
kesehatan dan kulit hewan uji atau sifat ini dapat diprediksi karena
karakteristik kimia bahan uji, seperti asam (pH <2) dan basa (pH>11,5),
ditandai sebagai bahan korosif.
Contoh bahan dengan sifat tersebut
misalnya asam mineral seperti HCl dan H2SO4 maupun basa seperti larutan NaOH
(>2%).
Hal-hal yang perlu dilakukan
untuk pengamanan dalam bahan – bahan yang mudah korosif adalah:
a. Simpan
bahan di tempat yang sesuai (cocok) dan lakukan pengontrolan atau pengawasan
secara teratur
b. Ikuti
aturan-aturan penyimpanan, pemberian label, pemakaian, dan pembuangannya
c. Simpan
persediaan di laboratorium dalam jumlah minimum
d. Gunakan
pelindung
e. Hindarkan
jangan sampai tumpah dan jika bersentuhan dengan kulit, cucilah segara dengan
air dan sabun

Bahan
dan formulasi dengan notasi “irritant” adalah tidak korosif tetapi dapat
menyebabkan inflamasi jika kontak dengan kulit atau selaput lendir. Contoh
bahan dengan sifat tersebut misalnya isopropilamina, kalsium klorida dan asam
dan basa encer.
4. Bahan
berbahaya bagi lingkungan

Bahan dan formulasi dengan
notasi “dangerous for environment”
adalah dapat menyebabkan efek tiba-tiba atau dalam sela waktu tertentu pada
satu kompartemen lingkungan atau lebih (air, tanah, udara, tanaman,
mikroorganisma) dan menyebabkan gangguan ekologi. Contoh bahan yang memiliki
sifat tersebut misalnya tributil timah kloroda, tetraklorometan, dan petroleum
hidrokarbon seperti pentana dan petroleum bensin.
2.3. Keamanan
Kerja di laboratorium
Berikut adalah hal-hal yang
perlu dilakukan untuk keamanan dan kelancaran kerja di laboratorium.
1. Rencanakan
percobaan yang akan dilakukan sebelum memulai praktikum.
2. Gunakan
perlatan kerja seperti kacamata pengaman untuk melindungi mata, jas
laboratorium untuk melindungi pakaian dan sepatu tertutup untuk melindungi
kaki.
3. Dilarang
memakai sandal atau sepatu terbuka atau sepatu berhak tinggi.
4. Wanita/pria
yang berambut panjang harus diikat.
5. Dilarang
makan, minum dan merokok di laboratorium.
6. Jagalah
kebersihan meja praktikum, apabila meja praktiukm basah segera keringkan dengan
lap basah.
7. Hindari
kontak langsung dengan bahan kimia.
8. Hindari
mengisap langsung uap bahan kimia.
9. Bila
kulit terkena bahan Kimia, janganlah digaruk agar tidak tersebar.
10. Pastikan
kran gas tidak bocor apabila hendak mengunakan bunsen.
11. Pastikan
kran air dan gas selalu dalam keadaan tertutup pada sebelum dan sesudah
praktikum selesai.
2.4. Penanganan Limbah
Setelah selesai melakukan
suatu percobaan maka limbah bahan kimia yang digunakan hendaknya dibuang pada
tempat yang disediakan, jangan langsung dibuang ke pembuangan air kotor
(wasbak) karena dapat menimbulkan polusi bagi lingkungan. Limbah zat organik
harus dibuang secara terpisah pada tempat yang tersedia agar dapat didaur
ulang, limbah padat harus dibuang terpisah karena dapat menyebabkan penyumbatan.
Limbah cair yang tidak berbahaya dapat langsung dibuang tetapi harus diencerkan
dengan air secukupnya.
Buanglah
limbah sesuai dengan kategori berikut :
1. Limbah
cair yang tidak larut dalam air dan limbah beracun harus dikumpulkan dalam
botol penampung. Botol ini harus tertutup dan diberi label yang jelas.
2. Limbah
padat seperti kertas saring, lakmus, korek api, dan pecahan kaca
dibuang pada tempat sampah.
3. Sabun,
deterjen dan cairan tidak berbahaya dalam air dapat dibuang langsung melalui
saluran air kotor dan dibilas dengan air secukupnya.
2.5. Administrasi dan Pemeliharaan
Bahan Laboratorium
1.Administrasi
Bahan
Tujuan dari administrasi bahan ialah agar mudah mengetahui posisi dan
pengambilannya dalam penggunaannya. Dalam hal ini yang perlu diadministrasikan yaitu :
a.
Jenis bahan
yang ada
b.
Jumlah
masing-masing bahan
c.
Jumlah
pembelian dan tambahan
d.
Jumlah yang
pecah/hilang dan habis
2.Pemeliharaan
Bahan
Masalah penyimpanan bahan biasanya ditentukan oleh keadaan laboratorium,
susunan laboratoroum, keadaan perabot laboratorium serta adanya gudang dan ruang persiapan.
BAB III
KESIMPULAN
Setiap bahan kimia memiliki
sifat fisik dan kimia yang berbeda-beda. Maka, hal-hal yang harus menjadi
diperhatian dalam penyimpanan dan penataan bahan kimia meliputi aspek pemisahan
(segregation), tingkat resiko bahaya (multiple hazards),
pelabelan (labeling), fasilitas penyimpanan (storage facilities),
wadah sekunder (secondary containment), bahan kadaluarsa (outdate
chemicals), inventarisasi (inventory), dan informasi resiko bahaya (hazard
information).
Selain
itu penyimpanan bahan di laboratorium perlu memperhatikan prinsip berikut,
yaitu: aman (bahan disimpan supaya aman dari pencuri), mudah dicari (untuk
memudahkan mencari letak bahan, perlu diberi tanda yaitu dengan menggunakan
label pada setiap tempat penyimpanan bahan, serta mudah diambil (penyimpanan
bahan diperlukan ruang penyimpanan dan perlengkapan).
DAFTAR PUSTAKA
Karya,
Bandung
Griffin,
Brian., (2005), Laboratory Design Guide Third Edition, Elsevier, Great
Britain
Lindawati., (2010), Strategi Inventaris Alat dan
Bahan, http//:
blogspot.com/2010/04/strategi-inventarisasi-alat-dan-bahan.
html
Lubis, M., (1993), Pengelolaan
Laboratorium IPA, Depdikbud Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta
Tim
Dosen., (2010), Pengelolaan Laboratorium,
FMIPA UNIMED, Medan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar