Senin, 25 November 2013



STRATEGI  PENYIMPANAN ZAT DAN BAHAN KIMIA YANG STANDAR
DI LABORATORIUM
                                                     
DOSEN PENGAMPU :
Prof. Drs. Manihar Situmorang, M.Sc, Ph.D
O
L
E
H

Emmi Juwita Siregaar
 8126141004
Kelas ( A )
  
PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN KIMIA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2013

BAB I
PENDAHULUAN

                   Laboratorium adalah suatu tempat dimana siswa, mahasiswa, dosen, maupun peneliti melakukan percobaan. Percobaan yang dilakukan menggunakan berbagai bahan kimia, peralatan gelas dan instrumentasi khusus yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan bila dilakukan dengan cara yang tidak tepat. Kecelakaan itu dapat juga terjadi karena kelalaian atau kecerobohan kerja, ini dapat membuat orang tersebut cedera dan bahkan bagi orang disekitarnya. Keselamatan kerja di laboratorium merupakan dambaan bagi setiap individu yang sadar akan kepentingan kesehatan, keamanan dan kenyamanan kerja. Bekerja dengan selamat dan aman berarti menurunkan resiko kecelakaan. Walaupun petunjuk keselamatan kerja sudah tertulis dalam setiap penuntun praktikum, namun hal ini perlu dijelaskan berulang-ulang agar setiap individu lebih meningkatkan kewaspadaan ketika bekerja di laboratorium.
                   Setiap bahan kimia itu berbahaya, namun tidak perlu merasa takut bekerja dengan bahan kimia bila tahu cara yang tepat untuk menanggulanginya. Yang dimaksud berbahaya ialah dapat menyebabkan terjadinya kebakaran, mengganggu kesehatan, menyebabkan sakit atau luka, merusak, menyebabkan korosi dan aebagainya. Jenis bahan kimia berbahaya dapat diketahui dari label yang tertera pada kemasannya.
                   Penyimpanan bahan / zat kimia di laboratorium merupakan salah satu aspek penting dalam pengelolaan suatu laboratorium.  Kesalahan dan keteledoran dalam menyimpan dan pengatur letak bahan / zat kimia akan dapat mengakibatkan kecelakaan berupa keracunan, kebakaran, maupun ledakan, yang membahayakan serta dapat merenggut nyawa. Oleh sebab itu diperlukan pemahaman mengenai jenis bahan kimia agar yang bekerja dengan bahan-bahan tersebut dapat lebih berhati-hati dan yang lebih penting lagi tahu cara menanggulanginya.

BAB II
ISI

2.1.       Bahan Kimia
                   Dari data tersebut, tingkat bahaya bahan kimia dapat diketahui dan upaya penanggulangannya harus dilakukan bagi mereka yang menggunakan bahan-bahan tersebut. Kadang-kadang terdapat dua atau tiga tanda bahaya pada satu jenis bahan kimia, itu berarti kewaspadaan orang yang bekerja dengan bahan tersebut harus lebih ditingkatkan. Contoh bahan kimia yang mudah meledak adalah kelompok bahan oksidator seperti perklorat, permanganat, nitrat dsb. Bahan-bahan ini bila bereaksi dengan bahan organik dapat menghasilkan ledakan. Logam alkali seperti natrium, mudah bereaksi dengan air menghasilkan reaksi yang disertai dengan api dan ledakan. Gas metana, pelarut organik seperti eter, dan padatan anorganik seperti belerang dan fosfor mudah terbakar, maka ketika menggunakan bahan-bahan tersebut, hendaknya dijauhkan dari api. Bahan kimia seperti senyawa sianida, mercuri dan arsen merupakan racun kuat, harap bahan-bahan tersebut tidak terisap atau tertelan ke dalam tubuh. Asam-asam anorganik bersifat oksidator dan menyebabkan peristiwa korosi, maka hindarilah jangan sampai asam tersebut tumpah ke permukaan dari besi atau kayu. Memang penggunaan bahan-bahan tersebut di laboratorium pendidikan kimia tidak berjumlah banyak, namun kewaspadaan menggunakan bahan tersebut perlu tetap dijaga.

2.2.       Penyimpanan Zat dan Bahan Kimia
                   Penyimpanan bahan kimia sangat perlu untuk mengurangi segala resiko yang timbul; mencegah mengatasi kehilangan, pencurian , kebakaran, kerusakan dan penyalahgunaan; menekan biaya operasional laboratorium sekecil mungkin; peningkatan kwalitas kerja/SDM untuk mengelola laboratorium secara optimal; memudahkan rencana penambahan bahan yang  baru; merencanakan perbaikan atau servis; serta informasi peralatan bagi user/pemakainya. Setiap bahan kimia memiliki sifat fisik dan kimia yang berbeda-beda. Maka, hal-hal yang harus menjadi diperhatian dalam penyimpanan dan penataan bahan kimia meliputi aspek pemisahan (segregation), tingkat resiko bahaya (multiple hazards), pelabelan (labeling), fasilitas penyimpanan (storage facilities), wadah sekunder (secondary containment), bahan kadaluarsa (outdate chemicals), inventarisasi (inventory), dan informasi resiko bahaya (hazard information).

1.      Aman                     : Bahan disimpan supaya aman dari pencuri.
2.      Mudah dicari         : Untuk memudahkan mencari letak bahan, perlu diberi tanda
                                 yaitu dengan menggunakan label pada setiap tempat
                                 penyimpanan bahan (lemari, rak atau laci).
3.      Mudah diambil      : Penyimpanan bahan diperlukan ruang penyimpanan dan
                                 perlengkapan
         
1.      Wujud Bahan (Padat dan Cair)
2.      Sifat Bahan  (Asam dan Basa)
3.      Sifat Bahaya  (Korosif; Racun; Mudah Terbakar)
4.      Seberapa sering digunakan

Langkah – Langkah Penyimpanan, yaitu:
1.        Bersihkan ruang dan penyimpanan bahan
2.        Periksa data ulang alat yang ada
3.        Kelompokkan bahan yang ada berdasarkan pada keadaan bahan
4.        Penyimpanan dan penataan bahan disesuaikan dengan fasilitas laboratorium dan keadaan bahan

 Pedoman Umum Penyimpanan Bahan, yaitu:
1.      Setelah digunakan dikembalikan di tempat semula
2.      Dikontrol periodik
3.      Pertimbangan menyimpan berdasarkan jangkauan untuk menghindari kecelakaan 
4.      Botol besar disebelah bawah, kecil di atas
5.      Lemari ditempat khusus
6.      Disimpan pada tempat yang sesuai dan terpisah (padat, cair, gas, mudah terbakar, higroskopis, mudah menguap)
Cara menyimpan bahan laboratorium bahan, yaitu:

Cara menyimpan bahan dengan memperhatikan kaidah penyimpanan, seperti halnya pada penyimpanan alat laboratorium. Sifat masing-masing bahan harus diketahui sebelum melakukan penyimpanan, seperti :
  1. Bahan yang dapat bereaksi dengan kaca sebaiknya disimpan dalam botol plastik.
  2. Bahan yang dapat bereaksi dengan plastik sebaiknya disimpan dalam botol kaca.
  3. Bahan yang dapat berubah ketika terkenan matahari langsung, sebaiknya disimpan dalam botol gelap dan diletakkan dalam lemari tertutup. Sedangkan bahan yang tidak mudah rusak oleh cahaya matahari secara langsung dalam disimpan dalam botol berwarna bening.
  4. Bahan berbahaya dan bahan korosif sebaiknya disimpan terpisah dari bahan lainnya.
  5. Penyimpanan bahan sebaiknya dalam botol induk yang berukuran besar dan dapat pula menggunakan botol berkran. Pengambilan bahan kimia dari botol sebaiknya secukupnya saja sesuai kebutuhan praktikum pada saat itu. Sisa bahan praktikum disimpam dalam botol kecil, jangan dikembalikan pada botol induk. Hal ini untuk menghindari rusaknya bahan dalam botol induk karena bahan sisa praktikum mungkin sudah rusak atau tidak murni lagi.
  6. Bahan disimpan dalam botol yang diberi simbol karakteristik masing-masing bahan.
                   Berikut ini dijelaskan simbol-simbol bahaya pada bahan kimia termasuk notasi bahaya dan huruf kode (catatan:huruf kode bukan bagian dari simbol bahaya)
1.      Bahan Mudah Terbakar (Inflammable substance )
                   Bahan mudah terbakar terdiri dari sub-kelompok bahan peledak, bahan pengoksidasi, bahan amat sangat mudah terbakar (extremely flammable substances), dan bahan sangat mudah terbakar (highly flammable substances). Bahan dapat terbakar (flammable substances) juga termasuk kategori bahan mudah terbakar (inflammable substances).
            Explosive (bersifat mudah meledak)
            
Huruf kode: E
                   Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya “explosive” dapat meledak dengan pukulan/benturan, gesekan, pemanasan, api dan sumber nyala lain bahkan tanpa oksigen atmosferik. Ledakan akan dipicu oleh suatu reaksi keras dari bahan. Di laboratorium, campuran senyawa pengoksidasi kuat dengan bahan mudah terbakar atau bahan pereduksi dapat meledak . Sebagai contoh, asam nitrat dapat menimbulkan ledakan jika bereaksi dengan beberapa solven seperti aseton, dietil eter, etanol, dan lain sebagainya.
Hal-hal yang dapat menyebabkan ledakan adalah:
a.       Karena adanya pelarut mudah terbakar.
b.      Karena ada udara cair.
Udara dapat meledak jika dicampur dengan unsur-unsur pereduksi dan hidrokarbon
c.       Karena ada debu.
Debu padat dari bahan mudah terbakar bercampur dengan udara dapat menimbulkan ledakan dahsyat
d.      Karena pencampuran gas
e.       Karena ada peroksida.

                   Ledakan yang mungkin ditimbulkan oleh bahan-bahan mudah meledak ini dapat dicegah dengan cara:
a.       Biasakan melakukan eksperimen di tempat terbuka atau di dalam lemari uap
b.      Jika ragu tentang sifat kimia bahan, gunakanlah dalam jumlah yang sedikit dan lakukan percobaan di atas penangas air
c.       Gunakan alat-alat yang layak (sesuai) seperti gelas tebal yang stabil oleh tekanan
d.      Selain hal di atas untuk keamanan maka lakukan pengamatan dari belakang layar pengaman atau gunakan pelindung seperti masker.
                   Bahan-bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya “oxidizing” biasanya tidakmudah terbakar. Tetapi bila kontak dengan bahan mudah terbakar atau bahan sangat mudah terbakar. Bahan organik penoksidasi sering menimbulkan ledakan dahsyat, terutama peroksida. Untuk laboratorium sekolah sebaiknya tidak usah menyediakan bahan ini seperti misalnya: Chlorat, Perklorat, Bromat, Peroksida, Asam Nitrat, Kalium Nitrat, Kalium Permanganat, Bromin, Klorin, Fluorin, dan Iodin yang mudah bereaksi dengan Oksigen (dalam kondisi tertentu) sehingga dikelompokkan menjadi bahan pengoksidasi.

                   Bahan-bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya “extremely flammable” merupakan bahan yang sangat mudah terbakar. Contoh bahan dengan sifat tersebut adalah dietil eter (cairan) dan propane (gas).
                   Kebakaran dapat terjadi karena berbagai hal. Sumber-sumber yang dapat menyebabkan timbulnya perapian/kebakaran diantaranya: nyala api, permukaan panas, hubungan pendek (korsluiting) listrik, muatan listrik statis, puntung rokok menyala, korek api dan sumber lainnya.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menangani bahan-bahan kimia yang mudah terbakar, agar keselamatan dan keamanan tetap terjaga, yaitu:
  1. Bahan tidak boleh dipanaskan secara langsung atau disimpan pada permukaan panas.
  2. Simpan bahan di tempat yang ventilasinya baik
  3. Di laboratorium, sediakan dalam jumlah yang minimum
  4. Sediakan alat pemadam kebakaran. Bila terjadi kebakaran dengan api kecil gunakan kain basah atau pasir, tapi bila api besar gunakan alat pemadam
  5. Pada saat memanaskan jangan mengisi gelas kimia dengan cairan mudah terbakar melebihi ½ kapasitasnya. Gunakan batu ddih guna menghindarkan ledakan/letupan
  6. Jangan membuang cairan yang mudah terbakar ke dalam bak cuci
  7. Jangan menyimpan cairan mudah terbakar dekat dengan bahan pengoksidasi atau bahan korosif
  8. Botoil penyimpanan bahan mudah terbakar jangan diisi sampai penuh, sediakan 1/8 isinya untuk udara. Gunakan botol yang tidak mudah terbakar dan jauhkan dari sumber perapian
  9. Bahan padat mudah terbakar simpan di tempat sejuk, jauhkan dari sumber panas, bahan lembab dan air, bahan pengoksidasi atau asam
  10. Kontrol semua bahan secara periodik
2.      Bahan – bahan berbahaya bagi kesehatan
                   Istilah bahan berbahaya untuk kesehatan termasuk sub-grup bahan bersifat sangat beracun(very toxic substances), bahan beracun (toxic substances) dan bahan berbahaya (harmful substances).
                                  
                   Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya ‘very toxic’ dapat menyebabkan kerusakan kesehatan akut atau kronis dan bahkan kematian pada konsentrasi sangat rendah jika masuk ke tubuh melalui inhalasi, melalui mulut (ingestion), atau kontak dengan kulit. Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya kalium sianida, hydrogen sulfida, nitrobenzene dan atripin.

                   Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya ‘toxic’ dapat menyebabkan kerusakan kesehatan akut atau kronis dan bahkan kematian pada konsentrasi sangat rendah jika masuk ke tubuh melalui inhalasi, melalui mulut (ingestion), atau kontak dengan kulit.Demi keamanan sebaiknya kita menganggap semua bahan kimia itu beracun. Berdasarkan tempat masuknya melalui tubuh kita, bahan-bahan beracun dikelompokkan menjai tiga kelompok besar yaitu bahan beracun yang masuk melalui pencernaan (mulut), absorbsi kulit, dan pernapasan. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk menghindari masukknya bahan-bahan tersebut ke dalam tubuh adalah:
a.       Untuk menghindari racun melalui mulut:
·         Hindarkan makan, minum atau merokok saat bekerja
·         Cuci tangan dan keringkan sebelum meninggalkan laboratorium
·         Hati-hati jangan menggunakan pipet isap.
b.      Untuk menghindari racun melalui kulit:
·         Cegah kontak dengan kulit
·         Gunakan sarung tangan
·         Cuci tangan dengan sabun dan air dengan segera

Untuk pengamatan saat bekerja dengan bahan-bahan beracun, maka sebaiknya:
a.       Gunakan bahan sidung di tutup atau di tempat yang berventilasi baik. Jika tidak digunakan, botol harus tetap di tutup
b.      Gunakan pelindung seperti sarung tangan dan jas lab.
c.       Botol harus selalu memiliki label dan disimpan di dalam lemari terkunci
d.      Cuci tangan sampai bersih sebelum meninggalkan laboratorium, tidak boleh membaui senyawa kimia secara langsung dan tidak boleh makan di laboratorium
e.       Taburkan pasir atau tanah jika bahan tumpah ke lantai asmpai terserap kemudian uapkan tanah/pasir tersebut di dalam oven.

                   Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya “harmful” memiliki resiko merusak kesehatan sedang jika masuk ke tubuh melalui inhalasi, melalui mulut (ingestion), atau kontak dengan kulit. Yang tidak diberi notasi toxic, akan ditandai dengan simbol bahaya ‘harmful substances’ dan kode huruf  Xn. Contoh bahan yang memiliki sifat tersebut misalnya solven 1,2-etane-1,2-diol atau etilen glikol (berbahaya) dan diklorometan (berbahaya, dicurigai karsinogenik).
3.      Bahan-bahan yang merusak jaringan (tissue destroying substances)

                   Bahan dan formulasi dengan notasi “corrosive” adalah merusak jaringan hidup. Jika suatu bahan merusak kesehatan dan kulit hewan uji atau sifat ini dapat diprediksi karena karakteristik kimia bahan uji, seperti asam (pH <2) dan basa (pH>11,5), ditandai sebagai bahan korosif.
Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya asam mineral seperti HCl dan H2SO4 maupun basa seperti larutan NaOH (>2%).
                   Hal-hal yang perlu dilakukan untuk pengamanan dalam bahan – bahan yang mudah korosif adalah:
a.       Simpan bahan di tempat yang sesuai (cocok) dan lakukan pengontrolan atau pengawasan secara teratur
b.      Ikuti aturan-aturan penyimpanan, pemberian label, pemakaian, dan pembuangannya
c.       Simpan persediaan di laboratorium dalam jumlah minimum
d.      Gunakan pelindung
e.       Hindarkan jangan sampai tumpah dan jika bersentuhan dengan kulit, cucilah segara dengan air dan sabun


                   Bahan dan formulasi dengan notasi “irritant” adalah tidak korosif tetapi dapat menyebabkan inflamasi jika kontak dengan kulit atau selaput lendir. Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya isopropilamina, kalsium klorida dan asam dan basa encer.
4.      Bahan berbahaya bagi lingkungan

                   Bahan dan formulasi dengan notasi “dangerous for environment” adalah dapat menyebabkan efek tiba-tiba atau dalam sela waktu tertentu pada satu kompartemen lingkungan atau lebih (air, tanah, udara, tanaman, mikroorganisma) dan menyebabkan gangguan ekologi. Contoh bahan yang memiliki sifat tersebut misalnya tributil timah kloroda, tetraklorometan, dan petroleum hidrokarbon seperti pentana dan petroleum bensin.
2.3.       Keamanan Kerja di laboratorium
                   Berikut adalah hal-hal yang perlu dilakukan untuk keamanan dan kelancaran kerja di laboratorium.
1.      Rencanakan percobaan yang akan dilakukan sebelum memulai praktikum.
2.      Gunakan perlatan kerja seperti kacamata pengaman untuk melindungi mata, jas laboratorium untuk melindungi pakaian dan sepatu tertutup untuk melindungi kaki.
3.      Dilarang memakai sandal atau sepatu terbuka atau sepatu berhak tinggi.
4.      Wanita/pria yang berambut panjang harus diikat.
5.      Dilarang makan, minum dan merokok di laboratorium.
6.      Jagalah kebersihan meja praktikum, apabila meja praktiukm basah segera keringkan dengan lap basah.
7.      Hindari kontak langsung dengan bahan kimia.
8.      Hindari mengisap langsung uap bahan kimia.
9.      Bila kulit terkena bahan Kimia, janganlah digaruk agar tidak tersebar.
10.  Pastikan kran gas tidak bocor apabila hendak mengunakan bunsen.
11.  Pastikan kran air dan gas selalu dalam keadaan tertutup pada sebelum dan sesudah praktikum selesai.

2.4.       Penanganan Limbah
                   Setelah selesai melakukan suatu percobaan maka limbah bahan kimia yang digunakan hendaknya dibuang pada tempat yang disediakan, jangan langsung dibuang ke pembuangan air kotor (wasbak) karena dapat menimbulkan polusi bagi lingkungan. Limbah zat organik harus dibuang secara terpisah pada tempat yang tersedia agar dapat didaur ulang, limbah padat harus dibuang terpisah karena dapat menyebabkan penyumbatan. Limbah cair yang tidak berbahaya dapat langsung dibuang tetapi harus diencerkan dengan air secukupnya.
                   Buanglah limbah sesuai dengan kategori berikut :
1.      Limbah cair yang tidak larut dalam air dan limbah beracun harus dikumpulkan dalam botol penampung. Botol ini harus tertutup dan diberi label yang jelas.
2.      Limbah padat seperti kertas saring, lakmus, korek api, dan pecahan kaca
dibuang pada tempat sampah.
3.      Sabun, deterjen dan cairan tidak berbahaya dalam air dapat dibuang langsung melalui saluran air kotor dan dibilas dengan air secukupnya.

2.5.        Administrasi dan Pemeliharaan Bahan Laboratorium 
1.Administrasi Bahan
                   Tujuan dari administrasi bahan ialah agar mudah mengetahui posisi dan pengambilannya dalam penggunaannya. Dalam hal ini yang perlu diadministrasikan yaitu : 
a.       Jenis bahan yang ada
b.      Jumlah masing-masing bahan
c.       Jumlah pembelian dan tambahan
d.      Jumlah yang pecah/hilang dan habis 
2.Pemeliharaan Bahan
Masalah penyimpanan bahan biasanya ditentukan oleh keadaan laboratorium, susunan laboratoroum, keadaan perabot laboratorium serta adanya gudang dan ruang persiapan. 

BAB III
KESIMPULAN

                   Setiap bahan kimia memiliki sifat fisik dan kimia yang berbeda-beda. Maka, hal-hal yang harus menjadi diperhatian dalam penyimpanan dan penataan bahan kimia meliputi aspek pemisahan (segregation), tingkat resiko bahaya (multiple hazards), pelabelan (labeling), fasilitas penyimpanan (storage facilities), wadah sekunder (secondary containment), bahan kadaluarsa (outdate chemicals), inventarisasi (inventory), dan informasi resiko bahaya (hazard information).
                   Selain itu penyimpanan bahan di laboratorium perlu memperhatikan prinsip berikut, yaitu: aman (bahan disimpan supaya aman dari pencuri), mudah dicari (untuk memudahkan mencari letak bahan, perlu diberi tanda yaitu dengan menggunakan label pada setiap tempat penyimpanan bahan, serta mudah diambil (penyimpanan bahan diperlukan ruang penyimpanan dan perlengkapan).

DAFTAR PUSTAKA

          Karya, Bandung

Griffin, Brian., (2005), Laboratory Design Guide Third Edition, Elsevier, Great
          Britain

Lindawati., (2010), Strategi Inventaris Alat dan Bahan, http//:
          blogspot.com/2010/04/strategi-inventarisasi-alat-dan-bahan. html

Lubis, M., (1993),  Pengelolaan Laboratorium IPA, Depdikbud Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta

Tim Dosen., (2010), Pengelolaan Laboratorium, FMIPA UNIMED, Medan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar