Minggu, 10 November 2013

jurnal inquiry

PENDEKATAN INKUIRIY TERBIMBING (GUIDED INQUIRY) TERHADAP HASIL BELAJAR KIMIA SISWA SMP PADA PENGAJARAN PERUBAHAN MATERI 
Emmi Juwita Siregar emmijuwitas@ymail.com 
 ABSTRAK

 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hasil belajar kimia siswa SMP lebih tinggi setelah diberi pengajaran dengan pendekatan inquiry termbimbing dari pada pengajaran konvensional pada pokok bahasan perubahan materi. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Yayasan Cerdas Murni Medan yang tebagi atas 2 kelas dengan jumlah siswa sebanyak 60 orang. Sedangkan sampel penelitian diambil secara total sampel dengan jumlah siswa sebanyak 60 orang. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental. Berdasarkan hasil uji persyaratan data, diketahui bahwa baik data hasil belajar siswa pada kelas eksperimen (dengan pendekatan inquiry terbimbing) dan hasil belajar siswa pada kelas kontrol (dengan pendekatan konvensional) dinyatakan berdistribusi normal dan memiliki varians yang seragam (homogen). Sementara berdasarkan hasil perolehan hasil belajar siswa terlihat adanya perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kedua kelas penelitian, dimana rata-rata hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan pendekatan inquiry terbimbing adalah sebesar 7,82 sedangkan rata-rata hasil belajar siswa dengan menggunakan pendekatan konvensional hanya sebesar 6,05. Adanya perbedaan hasil belajar pada kedua kelas penelitian tersebut juga terbukti melalui pengujian hipotesis dengan menggunakan uji-t dan taraf kepercayaan  = 0,05, dimana thitung > ttabel (6,76 > 1,84), yang berarti dalam penelitian ini Ho ditolak sekaligus menerima Ha, sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar kimia siswa SMP yang diberi pengajaran dengan pendekatan inquiry terbimbing lebih tinggi daripada yang diberi pengajaran dengan konvensional pada pokok bahasan perubahan materi.

 Kata kunci : inkuiriy terbimbing (guided inquiry)

 PENDAHULUAN

Pelaksanaan pembelajaran di kelas merupakan salah satu tugas utama guru. Pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa (Nasution, M.A, 1992). Dalam proses pembelajaran masih sering ditemui adanya kecendrungan meminimalkan keterlibatan siswa. Dominasi guru dalam kegiatan proses pembelajaran menyebabkan siswa lebih bersifat pasif sehingga siswa lebih banyak menunggu sajian guru daripada mencari dan menemukan sendiri pengetahuan, keterampilan atau sikap yang mereka butuhkan. Salah satu pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran kimia adalah strategi pembelajaran inquiry. Strategi pembelajaran inquiry cocok digunakan pada materi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari misalnya pada pokok bahasan perubahan materi. Metode inquiry dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan stuasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan materi yang diberikan dapat lebih bermakna bagi siswa. Kegiatan ini dapat berupa eksperimen dan tidak harus menggunakan alat-alat yang selalu mahal dan canggih. Eksperimen dapat dilakukan dimana saja. Jika diterapkan pembelajaran inquiry terbimbing, diharapkan proses pembelajaran lebih terpusat kepada siswa, artinya siswa lebih kreatif, lebih mandiri dan lebih berani mengemukakan pendapatnya sendiri.

 TINJAUAN PUSTAKA

 Pembelajaran berbasis inquiry merupakan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Tujuan utama pembelajaran inquiry adalah mendorong siswa untuk dapat mengembangkan disiplin intelektual dan keterampilan berpikir dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan. Strategi pembelajaran inquiry menekankan kepada proses mencari dan menemukan. Materi pelajaran diberikan secara tidak langsung. Peran siswa dalam strategi ini adalah mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing siswa untuk belajar. Secara umum proses pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran inquiry terbimbing dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: A. Orientasi Guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah, misalnya menjelaskan topik, tujuan dan hasil belajar yang diharapkan akan dicapai siswa. B. Merumuskan Masalah Membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang manantang untuk berpikir. C. Merumuskan Hipotesis Caranya dengan mengajukan pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan. D. Mengumpulkan Data Aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Tugas guru adalah mengajukan pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan. E. Menguji Hipotesis Proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data sehingga guru dapat mengembangkan kemampuan berpikir rasional siswa. F. Merumuskan Kesimpulan Proses mendiskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Adapun yang menjadi kelebihannya inquiry terbimbing membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan keterampilan dan proses kognitif siswa, pengetahuan diperoleh dari strategi ini sangat pribadi sifatnya dan mungkin merupakan pengetahuan yang sangat kukuh dalam arti pendalaman dari pengertian , retensi dan transfer, strategi penemuan membangkitkan gairah pada semangat siswa misalnya siswa merasakan jerih payah penyelidikannya menemukan keberhasilan dan kadang-kadang kegagalan. Dari kelebihan metode inquiry terbimbing sangat cocok untuk materi pembelajaaran kimia pada perubahan materi sehingga hasil belajar siswa meningkat. Pada perubahan materi terdapat perubahan kimia yaitu menghasilkan zat yang baru, sedangkan perubahan fisis tidak menghasilkan zat yang baru. Perubahann kimia contohnya kertas terbakar dan besi berkarat. Perubahan fisis contohnya es mencair dan air menguap. Sifat kimia adalah semua sifat materi yang berkaitan dengan perubahan kimia yang dapat dialami oleh suatu zat. Misalnya dapat terbakar, dapat berkarat dan reaksi lainnya. Sifat fisis adalah semua sifat yang berkaitan dengan penampilan aau keadaan fisik materi. Misalnya wujud, warna, aroma, kekerasan, titik leleh, titik didih, indeks bias dan daya hantar. Atas dasar inilah pembelajaran dengan pendekatan inquiry terbimbing dilakukan di SMP yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan di laksanakan di Yayasan SMP Cerdas Murni Medan pada bulan Juli 2009. Populasi dan Sampel 1. Populasi Penelitian Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VII Yayasan Cerdas Murni Medan terdiri dari 2 kelas dengan jumlah siswa 60 orang. 2. Sampel Penelitian Sampel penelitia ini adalah dari kedua kelas dengan jumlah 60 siswa. Variabel Penelitian 1. Variabel Bebas Pengajaran dengan pendekatan metode inquiry terbimbing. 2. Variabel Terikat Hasil belajar siswa pada pokok bahasan perubahan materi. 3. Variabel Kontrol a. Bahan ajar: Kelas kontrol dan kelas eksprimen mendapat materi yang sama. b. Waktu: Banyaknya waktu yang digunakan untuk kegiatan pengajaran di kelas kontrol dan kelas eksprimen adalah sama. c. Test / instrument: Test / instrument yang dipakai di kelas kontrol dan kelas eksprimen adalah sama. d. Guru: Guru yang mengajar di kelas kontrol dengan kelas eksprimen adalah sama. Prosedur Penelitian Penelitian ini bersifat eksperimental. Dalam melakukan penelitian ini melibatkan dua perlakuan yang berbeda antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kedua kelas ini pertama kali dilakukan Pre-Test setelah itu kelas ekperimen diberikan pengajaran dengan pendekatan inquiry terbimbing sedangkan kelas kontrol pengajaran dilakukan dengan pendekatan konvensional. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan pilihan berganda yang jumlahnya 32 soal dan hasilnya diharapkan 20 soal yang valid. Instrumen penelitian ini terdiri dari 4 option jawaban, 1 option adalah jawaban yang benar dan 3 option adalah diskontraktor. Instrumen penelitian yang dibuat dengan melakukan uji validitas soal, realibilitas soal, daya pembeda soal, dan taraf kesukaran test. Untuk mengukur homogenitas kemampuan awal kelas eksperimen dan kelas kontrol digunakan test awal. Sedangkan test akhir digunakan untuk mengetahui kemampuan akhir. Dalam penelitian ini digunakan teknik analisa data dengan melakukan uji normalitas data, uji homogenitas dan uji hipotesis untuk mengolah data hasil yng diperoleh dalam penelitian. Pengolahan data validitas soal dilakukan dengan teknik korelasi produk momen yang dikemukakan oleh Pearson (Usman, H. & Akbar, S. P, 2006). Dari hasil perhitungan koefisien korelasi , maka item soal dapat dinyatakan valid jika r > r . Pengolahan data realibilitas soal dihitung dengan rumus yang ditemukan oleh Kuder dan Richardson yaitu K-R 20. Untuk menafsir harga realibilitas dari item soal maka harga perhitungan dikonfirmasikan ke tabel harga kritik r tabel Produk momen dengan α = 0,005 jika r > r maka soal realibel

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Nilai Pretes Siswa Dari hasil pemberian tes diketahui nilai rata-rata siswa pada kelas eksperimen sebesar 4,18 dengan simpangan baku (SD) sebesar 1,03 sedangkan pada kelas kontrol diketahui nilai rata-rata siswa sebesar 3,83 dengan simpangan baku (SD) sebesar 1,04. Tabel 1. Perbedaan Nilai Pretes Kelas Eksperimen dan Kontrol Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Nilai Pretes f SD Nilai Pretes f SD 2.5 3 4,18 1,03 2.0 2 3,83 1,04 3.0 4 2.5 3 3.5 3 3.0 5 4.0 5 3.5 4 4.5 6 4.0 5 5.0 4 4.5 4 5.5 3 5.0 4 6.0 2 5.5 3 Jumlah 30 - - Jumlah 30 - - Untuk lebih jelasnya perbandingan nilai pretes kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada diagram di bawah ini. Gambar 1. Diagram perbedaan nilai pretes kelas eksperimen dan kontrol Deskripsi Nilai Postes Siswa Dari hasil pemberian tes diperoleh nilai rata-rata hasil belajar siswa pada kelas eksperimen sebesar 7,82 dengan simpangan baku (SD) sebesar 1,05 sedangkan pada kelas kontrol diperoleh nilai rata-rata hasil belajar siswa sebesar 6,05 dengan simpangan baku (SD) sebesar 0,97.
Tabel 2. Perbedaan Nilai Postes Kelas Eksperimen dan Kontrol Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Nilai Postes f SD Nilai Postes f SD 6.0 3 7,82 1,05 4.5 4 6,05 0,97 6.5 2 5.0 3 7.0 4 5.5 4 7.5 5 6.0 6 8.0 6 6.5 5 8.5 3 7.0 4 9.0 4 7.5 4 9.5 3 - - Jum lah 30 - - Jum lah 30 - - Untuk lebih jelasnya perbedaan nilai postes pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada diagram di bawah ini. Gambar 2 Diagram perbedaan nilai postes kelas eksperimen dan kontrol
 Tabel 3. Pengujian Normalitas Data Penelitian
 Tabel 4. Pengujian Homogenitas Data Penelitian Dari hasil perhitungan uji persyaratan data di atas, maka dapat disimpulkan bahwa data penelitian dinyatakan normal dan homogen sehingga telah memenuhi syarat untuk dilakukan pengujian hipotesis. Pengujian Hipotesis Nilai rata-rata kelas eksperimen 7,82 sedangkan kelas kontrol 6,05. Varians gabungan untuk kedua data tersebut adalah sebesar 1,01. Maka diketahui harga thitung yakni sebesar 6,76. Nilai thitung yang diperoleh selanjutnya dibandingkan dengan nilai ttabel dengan dk (58) = 1,84. Dari hasil perbandingan harga thitung dengan ttabel diketahui bahwa thitung > ttabel (6,76 > 1,84). Dengan melihat hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini Ha diterima sekaligus menolak H0 yang berarti bahwa hasil belajar kimia siswa SMP yang diberi pengajaran dengan pendekatan inquiry terbimbing lebih tinggi daripada yang diberi pengajaran dengan pengajaaran konvensional pada pokok bahasan perubahan materi. Pembahasan Hasil postes menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar siswa yang diberi pengajaran dengan pendekatan inquiry terbimbing meningkat sebesar 3,63 satuan dibandingkan dengan rata-rata hasil belajar siswa sebelum diberikan pengajaran, sedangkan rata-rata hasil belajar siswa yang diberi pengajaran dengan pendekatan konvensional juga meningkat sebesar 2,22 satuan. Berdasarkan hasil tersebut, terlihat bahwa hasil belajar siswa yang diberi pengajaran dengan pendekatan inquiry termbimbing meningkat lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang diberi pembelajaran dengan pengajaran konvensional. Dengan perbedaan besar peningkatan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada kedua kelas penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan pendekatan inquiry terbimbing lebih efektif digunakan untuk mengajarkan pokok bahasan perubahan materi dibandingkan dengan pengajaran konvensional. Dari hasil penelitian dan pembahasan di atas, tampak bahwa penggunaan pendekatan pembelajaran dalam proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator penting yang sangat menentukan hasil belajar siswa. Untuk itu, sebaiknya proses belajar mengajar dikelola dengan terpusat pada siswa untuk memaksimalkan aktivitas belajar siswa agar siswa dapat belajar secara mandiri seperti halnya pada pendekatan inquiry terbimbing, tidak seperti pada pengajaran konvensional yang cenderung monoton dan membosankan bagi siswa.

 KESIMPULAN

 Berdasarkan hasil penelitian metode pendekatan inquiry terbimbing terhadap hasil belajar kimia siswa pada pokok bahasan perubahan materi di kelas eksperimen VII SMP Cerdas Murni Medan diperoleh skor rata-rata sebesar 7,82 termasuk baik. Berdasarkan hasil penelitian pengaruh metode pendekatan inquiry terbimbing terhadap hasil belajar kimia siswa pada pokok bahasan perubahan materi di kelas kontrol VII SMP Cerdas Murni Medan diperoleh skor rata-rata sebesar 6,05 termasuk cukup. Hasil belajar kimia siswa SMP yang diberi pengajaran dengan pendekatan inquiry terbimbing lebih tinggi daripada yang diberi pengajaran dengan pendekatan konvensional pada pokok bahasan perubahan materi. Saran Berdasarkan hasil penelitian ini, maka penulis menyarankan : Sebagai informasi dan pedoman bagi penulis selaku calon guru dalam menerapkan pendekatan pembelajaran yang tepat di lapangan nantinya. Bagi guru kimia SMP Yayasan Cerdas Murni Medan agar lebih cermat dalam memilih jenis pendekatan pembelajaran yang akan digunakan setiap akan mengadakan proses belajar mengajar. Bagi guru kimia SMP Yayasan Cerdas Murni Medan agar berkenan menerapkan pendekatan inquiry terbimbing sebagai salah satu alternatif dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

 DAFTAR PUSTAKA

Ansory, I. & Ahmad, H, (2000), Kimia SMU, Penerbit Erlangga, Jakarta Arikunto,S, (2002), Dasar–Dasar Evaluasi Pendidikan, Penerbit Bumi Aksara, Jakarta.
Djamarah, S.B, (2006), Prestasi Belajar dan Kompetensi, Edisi Revisi, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta. Djamarah, S.B, (2006), Strategi Belajar Mengajar , Edisi Revisi, Penerbit Rineka Cipta , Jakarta. Kamilati, N, (2006), Mengenal Kimia, Penerbit Yudistira, Jakarta. Nasution, M.A. (1992), Proses Belajar Mengajar di Sekolah, Penerbit PT. Bumi Aksara, Jakarta.
Saragih, Hormaul, (2004), Penerapan Pembelajaran Kontekstual Dalam Peningkatan Hasil Belajar Fisika Siswa Pada Pokok Bahasan Zat dan Wujudnya di Kelas I Semester 1. SLTP N. 27 Medan Tahun Ajaran 2003/2004, Skipsi FMIPA UNIMED, Medan. Sudjana, (2002), Metode Statistik, Penerbit Tarsito, Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar